Goodbye, my Friends..

 

Author        : Kim Hye Min

Tag                : Kim Eunri, Lee Hyora, Park Hyo Kyo, Cho Kyuhyun, and others..

Genre           : friendship, sad (failed -__-)

Title              : Good Bye, my Friends

koreanfflovers4ever.wordpress.com

I’m come back!!!*siapa lu?* *nangis di pojokan* aku kembali membawa ff ku tentang persahabatan. Yeaah, entah kenapa aku suka banget bikin ff dengan genre ‘friendship’ meskipun masih abal -___- mianhae juga klo posternya, erhh.. jelek banget, tau kan aku gak bisa ngedit foto?

Oke gak usah banyak bacot deh, happy reading all ^^

***

Kim Eunri POV

KRINGGG

Bel sekolah berbunyi nyaring. Tanda waktu istirahat. Aku masih terduduk manis di tempat dudukku. Menunggu teman-teman keluar kelas terlebih dahulu. Tapi ada satu hal yang membuatku sangat sedih. Apa ini yang dinamakan sahabat sejati? Apa sahabat sejati akan meninggalkan dan mengejek sahabatnya sendiri? Aku rasa begitu.

Hyora dan Hyo Kyo sudah berubah belakangan ini. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa berubah. Aku sudah cukup sabar untuk menghadapi mereka. Tapi apa daya, kesabaran manusia ada batasnya. Mereka selalu meninggalkanku, mau saat istirahat ataupun pulang sekolah. Apa mereka tidak tahu bahwa hatiku terasa sakit? Pasti kalian juga merasa sakit jika ditinggalkan oleh sahabat kalian.

Seperti ditusuk ribuan jarum tiada henti. Sakit, perih, kecewa. Itu yang aku rasakan sekarang. Apa mereka tidak pernah memikirkanku sebagai sahabatnya? Aku rasa tidak. Yeah, aku rasa aku sedang tersesat. Tersesat diantara 2 yeoja cantik dan populer di sekolahku. Tentu saja, Hyora dan Hyo Kyo termasuk yeoja yang banyak disukai oleh para namja di sekolahku. Sedangkan aku? Tak usah ditanya, tidak akan ada yang menyukaiku.

Aku cukup tahu diri tentang hal itu. Aku jelek, jahat, judes, dan masih banyak sifat burukku yang tidak disukai oleh orang lain. Masih beruntung, karena aku bisa berteman dengan Hyora dan Hyo Kyo. Mereka berdua adalah keturunan orang kaya. Sementara aku? Aku hanya berasal dari keluarga sederhana. Apa aku harus menghindar dari mereka berdua? Tapi.. oh, ayolah! Aku tahu, aku tidak akan mampu melakukannya.

Biasanya pada jam istirahat, kami bertiga akan selalu membuat kegaduhan di kelas. Tapi sekarang? Tidak mungkin. Aku saja tidak berani untuk mendekati mereka berdua. Aku masih penasaran apa yang terjadi pada mereka berdua. Sekarang, kami sudah tidak pernah berbicara satu sama lain lagi. Semenjak kejadian itu. Yeah, kurasa begitu.

#flashback

“Eunri! Sudah berapa kali aku katakan padamu, hah?! Apa kau tidak mengerti juga? Sudah kubilang jangan upload foto itu!” Hyora membentakku. Rasanya sakit sekali dibentak seperti ini. Meskipun hanya melalu telepon, tapi.. seperti dia sedang berada di depanku dengan amarah yang meluap-luap.

“mi-mianhae.. aku tidak bermaksud melakukannya” aku tertunduk dan menangis. Aku tahu Hyora tidak mungkin bisa melihatku. Tapi, apa dia bisa sedikit saja tidak membentakku?

“tidak bermaksud bagaimana, hah?! Sudah jelas kau meng-upload fotoku ke me2day!!” aku tahu aku salah, Hyora-ah! Tapi bukankah aku sudah meminta maaf padamu?

“mianhae, jeongmal mianhae. Sebenarnya aku tidak mau meng-uploadnya. Tapi, aku disuruh Seung Ho oppa untuk meng-uploadnya” aku masih terisak di sudut kamarku. Aku tahu, tidak akan ada orang yang mendengarku menangis. Tentu saja, appa dan eomma sudah berpisah. Appa sedang bekerja, Hye Ra (yeodongsaengku) sedang bermain di rumah temannya. Paling tidak, hanya Park ahjumma yang mendengarku menngis.

“aku tidak menerima penjelasan apapun darimu!” sambungan telepon terputus begitu saja. Aku masih tetap meringkuk di sudut kamarku. Membiarkan pipiku basah oleh air mataku.

#flashback end

Ya, karena kejadian itu aku bertengkar dengan Hyora. Tapi kenapa Hyo Kyo juga kut menjauhiku?

“Aih, Eunri babo! Tentu saja Hyo Kyo akan memilih Hyora dari pada kau!” aku mengetuk kepalaku, menyalahkan diriku atas perbuatan bodohku.

***

Aku masuk ke rumah dan melepas sepatuku.

“annyeong, aku pulang” tidak ada jawaban. Tentu saja, hanya ada Park ahjumma dirumah ini, dan aku rasa Park ahjumma sedang berada di dapur dan tidak mendengarku. Aku naik ke kamarku, merenung di depan meja belajar yang menghadap ke jendela. Aku menerawang kosong.

Hari demi hari, dadaku terasa semakin sesak. Tak ada sahabat tempatku curhat dan bercerita, tak ada lagi teman yang menemani hari-hariku. Semakin hari, aku merasa hidupku menjadi lebih berat. Tidak ada lagi teman yang membantuku menopang semua masalah duniawi. Semua kujalani seorang diri. Berat sekali.

Rasanya aku ingin mati saja. Membebaskan diri dari semua masalah rumit yang ada di dunia ini. Aku tahu, tak akan lama lagi. Aku akan terbebas dari semua masalah-masalah rumit ini. Aku difonis mengidap kanker otak oleh dokter, dan semakin hari, obat yang aku minum semakin banyak. Tentu saja karena penyakitku semakin parah.

Aku tidak pernah memberi tahu kepada siapapun tentang penyakitku. Temasuk kepada Hyora dan Hyo Kyo. Hanya keluargaku yang tahu tentang penyakitku ini. Aku tidak mau merepotkan orang lain karena penyakitku ini. Aku akan berusaha menjadi gadis kuat. Ya, kau tidak boleh menjadi gadis lemah Kim Eunri!

TOK TOK TOK

“permisi, nona. Waktunya minum obat” Park ahjumma masuk kedalam kamarku dengan membawa nampan berisi obat-obatan dan segelas air mineral.

Aku sudah terbiasa meminum obat yang rasanya sangat pahit itu. Obat itu bisa disebut mirip dengan kehidupanku. Kehidupan yang sangat pahit. Kurasa sudah tidak ada lagi orang yang menyayangiku seperti dahulu. Appa selalu sibuk dengan pekerjaannya, Hye Ra selalu sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Eomma? Eomma tidak tinggal denganku. Ia tinggal di Nowon, sedangkan aku di Seoul.

Hidupku.. sungguh amat berat. Aku lalui tanpa kasih sayang keluarga ataupun sahabat. Sungguh kasihan. Aku mengambil buku diaryku yang kusimpan di bawah laci meja belajarku.

“argghh..” aku memegangi kepalaku. Rasa sakit menjalar di sekitar kepalaku. Seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Hatiku sama seperti kepalaku. Sakit. Sudah kubilang tadi bukan? Rasanya sama, seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Aku menuliskan sesuatu di buku diaryku. Sekarang, hanya buku diaryku. Teman untukku curhat dan bercerita. Mungkin sekarang aku akan bersahabat dengan buku? Ahh, itu kedengarannya sangat tolol. Mana mungkin aku bisa bersahabat dengan buku?!

Aku baru ingat, kalau hari ini aku ada PR. Semenjak aku mengidap penyakit kanker otak itu, entah kenapa ingatanku menjadi sangat lemah. Aku mulai mengerjakan PR matematika yang diberikan oleh Lee seonsangnim. Cukup banyak, 40 soal. Hwaiting, Kim Eunri!

***

Burung-burung bericauan. Sinar matahari menerpa wajahku melalui sela-sela gorden kamarku. Hari yang sangat dingin. Tentu saja, sekarang sedang musim dingin. Tapi kenapa ada burung berkicau?

“huaaahhh..” aku merenggangkan tanganku. Kakiku melangkah menuju cermin yang ada di kamarku. Wajahku sudah semakin pucat. Aku mengambil sisir untuk merapikan rambutku yang sudah seperti singa ini.

Sreeeettt…

Tanganku sudah bergetar. Aku melihat sisirku sudah penuh oleh beberapa helai rambutku yang cukup panjang. Apa aku akan kehilangan rambutku seperti orang lain yang mengidap kanker juga? Andwae! Teman-temanku tidak boleh tahu tentang hal ini.

Aku meraba kepalaku. Tipis di salah satu bagian.

Air mataku menetes begitu saja. Membentuk sebuah garis kesedihan di wajahku. Aku tahu umurku sudah tidak panjang lagi. Apakah aku akan sembuh?

Wajahku kembali menghadap kearah cermin. Sedikit merapikan topi rajut yang kupakai. Satu-satunya cara agar teman-teman sekolahku tidak menyadari rambutku yang sudah hampir botak. Aku memaksakan seulas senyum. Terlihat seperti senyum paksaan.

“aku akan berusaha untuk sembuh…”

***

Hari ini aku ke sekolah menggunakan kendaraan umum. Appa tidak pulang semalam. Aku merapikan mantel tebal yang kupakai. Cuaca hari ini dingin sekali. Aku hampir membeku. Tak lama kemudian aku sampai di sekolahku. Seoul International High School. Yeah, aku memang termasuk anak yang cukup pintar. Sekarang aku berada di tingkat XI.

Aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Cukup jauh memang. Andai kalian tahu, sekolahku ini sangat luas. Terkadang saja aku lupa jalan menuju kelasku. Aku memasuki kelasku. Kelas XI-1, dikhususkan untuk anak-anak yang pintar. Entah kenapa banyak anak yang melihat kearahku dengan tatapan aneh. Ah, aku tak peduli.

“annyeong, anak-anak” Lee seonsangnim memasuki kelas.

“annyeong, Lee seonsangnim” balas semua murid.

“baiklah buka buku halaman 49” aku mengikuti perkataan Lee seonsangnim. Aku sangat bersemangat hari ini. Ya, aku sangat suka pelajaran matematika yangdiajarkan oleh Lee seonsangnim.

Sedari tadi Lee seonsangnim menjelaskan banyak rumus matematika. Tapi anehnya, tidak ada satu pun yang menyerap ke otakku. Sedari tadi aku hanya memijat-mijat kepalaku yang terasa pusing. Apa otakku sudah tak berfungsi lagi? Andwae!

“gwaenchana, Eunri-ssi?” aku menengok dan mendapatkan Kyuhyun yang bertanya padaku dengan raut wajah khawatir.

“gwaenchanayo, Kyuhyun-ssi” aku memaksakan seulas senyum terlukis di wajahku. Tapi percuma, pasti kelihatannya hanyalah senyum yang sangat konyol. Dia membalasku senyumku. Senyum terindah yang pernah aku lihat selama hidupku, membuat dadaku berdesir.

Aku kembali memerhatikan Lee seonsangnim. Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Tidak ada satupun rumus yang masuk ke otakku. Aku kembali menekan-nekan keningku, meminimalisir rasa sakit yang menjalar di kepalaku. Semakin lama, rasanya kepalaku semakin sakit. Aku sudah tidak kuat, dan..

***

“gwaenchana?” aku mengerjapkan mataku. Menyesuaikan cahaya yang masuk. Aku melihat sesosok namja sedang menungguiku di ruang serba putih ini.

“nan gwaenchana. Dimana ini?” aku bertanya pada Kyuhyun. Ya, namja yang menungguiku sedari tadi itu ternyata Kyuhyun.

“kau berada di UKS. Tadi aku lihat kau menekan-nekan keningmu dan tak lama kemudian, kau pingsan. Aku panik, dan langsung meminta izin Lee seonsangnim untuk membawamu dan menjagamu di UKS” dia bercerita panjang. Eh? Apa? Dia panik? Apa aku tidak salah dengar?

“hei? Kau kenapa?” dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Aku pun tersadar dari lamunanku.

“ah? Gwaenchana”

“mianhae, agasshi. Apa anda baik-baik saja? Saya hanya memberi saran, sebaiknya anda pulang dari pada anda tetap diam di sekolah dan hanya menghabiskan waktu di UKS. Anda butuh istirahat” jelas penjaga ruang UKS itu panjang lebar. Benar, sebaiknya aku pulang.

“ah, ne. Aku akan segera pulang” aku mencoba berdiri dan bangun dari  tempat tidur. Tapi yang ada aku oleng dan hampir saja terjatuh jika Kyuhyun tidak menahanku.

“gomawo” kurasa sekarang mukaku sudah seperti kepiting rebus >.<

“cheonma” dia membalasku singkat. Aku membalikan badanku dan keluar dari UKS.

Lee Hyora POV

Kudengar Eunri masuk UKS karena pingsan. Jangan salahkan aku bila aku tidak menjenguknya. Aku tahu dia benci padaku karena waktu itu aku membentaknya hanya karena masalah yang sangat sepele. Apa dia tidak bisa memaklumiku? Aku waktu itu kelepasan membentaknya karena emosi.

Untung saja ada Kyuhyun. Ya, aku memintanya untuk menjaga Eunri. Kau tahu? Eunri sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dia selalu menceritakan masalahnya padaku. Tapi entah kenapa, dia selalu merasa tidak nyaman bila sedang berada di dekatku maupun Hyo Kyo.

Dia pernah bilang bahwa dia malu dan tidak pantas bersahabat denganku dan Hyo Kyo karena dia tidak cantik, kaya, dan popular. Hey, apa aku membutuhkan itu semua? Yang aku butuhkan hanyalah kasih sayang seorang sahabat. Aku mau menjadi sahabatnya karena aku merasakan kasih sayangnya yang tulus padaku.

Kami sudah bersahabat sejak TK. Ya, kami satu sekolah dari dulu hingga sekarang. Aku sangat menyayanginya. Maka dari itu, kutitipkan dia pada Kyuhyun. Aku percaya pada Kyuhyun, dia menyukai Eunri. Dia juga menyanggupi permintaanku untuk menjaga Eunri. Aku tak perlu lagi padanya.

“hey, kau dengar bahwa Eunri masuk UKS tidak? Aku sangat khawatir padanya” Hyo Kyo sedikit menundukan kepalanya. Aku tahu, dia juga sangat menyayangi Eunri sama sepertiku.

Tapi apa daya? Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menitipkannya pada Kyuhyun.

“ne, aku tahu. Aku juga sangat khawatir. Aku sudah menitipkannya pada Kyuhyun agar dia menjaganya. Jadi kau tidak usah khwatir lagi. Arra?” aku menepuk bahunya. Dia mengangguk dan tersenyum.

Dulu, kami sudah seperti anak ayam. Kemana-mana selalu bertiga. Jika ada salah satu dari kami ada yang tidak ikut, pasti temanku ada yang bertanya. Tapi itu dulu, berbeda dengan sekarang. Apa Eunri masih menganggapku sahabatnya? Molla, tapi kuharap begitu.

Cho Kyuhyun POV

Aku menyanggupi permintaan Hyora untuk menjaga Eunri. Bagaimana bisa aku menolaknya? Tentu saja aku menerima tawaran itu dengan senang hati. Menjaga orang yang kusukai. Kim Eunri.

Entah mengapa belakangan ini mukanya terlihat pucat pasi dan dia juga selalu memakai topi ke sekolah. Apa dia sedang sakit? Tapi kuharap tidak. Aku akan selalu menjaganya. Dulu, aku pernah menyatakan perasaanku padanya, tapi ditolak olehnya. Dia hanya menganggapku teman, tidak lebih.

Tidak apa jika dia menganggapku teman. Menjadi temannya saja aku sudah sangat beruntung. Menjadi teman dari Eunri yang polos, tomboy namun cantik. Ah, kalau aku mendeskripsikan dirinya, mungkin aku tidak tahu kapan ini akan selesai.

Kim Eunri POV

Aku tertidur di meja belajarku. Tadi aku bermimpi, aku bertemu halmeoni di tempat serba putih. Apa ajal akan segera menjemputku? Andwae! Hilangkan pikiran burukmu itu, Kim Eunri.

Tadi aku diantar Kyuhyun pulang. Dia bilang dia khawatir padaku. Ya, sudah karena dia memaksa, kubiarkan saja dia mengantarku. Akhir-akhir ini kepalaku makin terasa sakit. Aku juga sering pingsan. Apa aku masih bisa sembuh?

Semakin hari, obat yang kuminum makin bertambah. Aku sudah pasrah dengan semuanya. Toh, hidupku ada di tangan Tuhan. Aku percaya dengan takdir Tuhan.

Sampai saat ini, teman curhatku hanyalah buku diary yang tidak bernyawa dan tidak bisa berbicara. Ya, buku diaryku adalah saksi bisu dari semua rahasiaku. Kedengaran tolol bukan?

“argghhhh…” rasa sakit itu kembali menjalar di kepalaku. Aku hanya bisa memijat-mijat keningku. Badanku oleng. Sudah cukup, ini sudah terlalu sakit. Aku pun kehilangan kesadaranku…

***

Aku mengerjepkan mataku. Menetralisir cahaya ruangan ini. Aku tahu, ini pasti di rumah sakit. Mengapa aku sering sekali memasuki tempat ini?!

“gwaenchana?” aku baru menyadari ada appa disini. Biasanya dia hanya sibuk dengan pekerjaannya.

“nan gwaenchana, appa” aku tersenyum, sedikit terpaksa.

“appa sangat khawatir melihatmu tergeletak di lantai dengan keadaan tak bernafas” appa memelukku. Aku membalas pelukannya.

“maafkan appa, nak. Selama ini appa hanya mementingkan urusan appa” kurasakan ada air yang jatuh dipundakku. Ya, appa menangis.

“gwaenchana appa” aku ikut menangis. Mengapa hidupku ini berat sekali? Tidak ada orang tempatku mengadu dan bercerita. Tak ada sahabat yang menemaniku lagi. Aku sudah cukup tersiksa di dunia ini.

“appa, aku ingin pulang” aku melepaskan pelukannya. Dia menatapku heran.

“apa kau yakin, nak?” dia tersenyum tulus. Aku mengangguk.

“aku mau dirawat saja dirumah, appa” aku memegang appa dengan muka memelas.

“ne, baiklah” appa berbalik memunggungiku dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar rumah sakit ini. Kurasa appa akan segera menemui dokter. Benar saja, tidak lama kemudian, appa datang bersama dokter.

“apa kau yakin ingin dirawat di rumah saja?” dokter bertanya padaku. Aku mengangguk dan tersenyum.

“baiklah, jika itu kemauanmu” dokter mengajak appa berbicara di luar kamar. Karena aku penasaran, aku menguping dari dalam kamar.

“maaf tuan, penyakit kanker anak anda sudah mencapai stadium akhir. Saya  rasa umurnya tidak akan lama lagi. Mianhae tuan, jeongmal mianhae”

“gwaenchana, dokter. Saya tahu. Jeongmal gomawo” suara appa bergetar. Tanpa terasa, air mataku menetes. Memperlihatkan garis kesedihan. Aku tahu, umurku sudah tidak lama lagi. Apakah kau bisa memberikan sedikit kebahagian untukku, Tuhan?

Gagang pintu bergerak, aku langsung lari ke kasur sambil menghapus air mataku. Semoga appa tidak menyadari bahwa aku tadi menangis.

“kau bereskan barang-barangmu. Appa akan membereskan administrasi dulu” appa tersenyum dan berbalik. Aku segera merapikan bajuku. Huaah, aku tidak sabar masuk ke dalam kamarku lagi.

***

Tiba-tiba aku ingat Hyora dan Hyo Kyo. Kalau boleh jujur, aku rindu sekali dengan mereka. Tapi, tetap saja. Aku ini tidak pantas untuk menjadi sahabat mereka. Sadarlah, Kim Eunri! Kau bukan apa-apa untuk ukuran Hyora dan Hyo Kyo.

‘tapi.. bukankah kata appa aku cantik?’ aku menggumam. Penasaran, aku melangkahkan kakiku menuju cermin. Melihat pantulan diriku disana.

“aku cantik kok..” aku tersenyum dan sedikit merapikan rambutku. Tapi, rambut yang kusentuh tadi rontok. Menimbulkan kebotakan di suatu tempat.

“tapi aku penyakitan..” lanjutku lagi. Air mata sudah tidak dapat kutahan lagi. Kenapa sekarang aku menjadi lemah? Aku juga tidak tahu mengapa. Aku lemah..

Sekarang, pertanyaanku hanya satu,

Apakah aku akan sembuh?

“hiks.. appa, eomma.. apakah aku akan sembuh? Hiks..” tubuhku merosot. Aku sudah tidak tahan lagi.

Rasa sakit itu muncul lagi. Sungguh, rasanya aku ingin memenggal kepalaku ini saking sakitnya. Tiap aku beridiri, berjalan, berfikir, dan bahkan saat aku tertidur. Aku sungguh sangat tersiksa saat ini.

 Apakah aku akan mati?

Pertanyaan itu keluar begitu saja di otakku. Yeah, kurasa aku akan mati.

Aku melangkahkan kakiku menuju meja belajarku. Tanganku meraih gagang laci dan membuknya. Aku mengambil sesuatu disana.

“argghh..” rasa sakit itu muncul lagi di kepalaku. Aku tidak boleh menyerah! Ya, kau tidak boleh menyerah, Kim Eunri!

Aku mengambil selembar kertas dan sebuah bolpoint.

“kapan terakhir kali aku memegang benda ini?” aku menggumam. Ya, setelah lama difonis, aku tidak diizinkan appa untuk masuk sekolah. Aku sangat membenci hal itu.

Aku duduk di meja belajarku. Mencoba memegang bolpoint dengan benar. Aku menulis surat untuk orang yang mungkin sebentar lagi akan aku tinggalkan.

“saranghae, jeongmal..” aku menangis dan melanjutkan menulis.

***

Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden kamarku membuatku terbangun. Aku terduduk dan mengerjapkan mataku untuk menyesuaikan cahaya di kamarku.

Sama seperti biasanya, hari ini aku merasa lelah.. lelah dengan cobaan hidupku yang begitu berat ini.

Tidak! Kau tidak boleh menyerah, Kim Eunri! Kau harus sembuh!

Aku mendapatkan semangat dari diriku yang paling dalam. Alasan hidupku kini hanya satu, untuk sahabat-sahabatku.

Kakiku melangkah menuju cermin. Ingin melihat penampilanku yang makin hari makin memburuk. Wajahku menengadah ke cermin..

“ti-tidak mungin! Ini tidak mungkin.. hikss..” aku terbata-bata melihat penampilanku di cermin. Rambutku! Andwae!

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini. Aku menemukannya. Benda berwarna hitam kecoklatan. Aku mengambilnya. Air mata tidak dapat kubendung lagi. Pertahananku runtuh. Aku menangis.

“rambutku.. hiks.. eomma, rambutku sudah tidak ada.. hiks..” aku tahu bahwa kanker di kepalaku kan memburuk. Buktinya, kepalaku tidak ditumbuhi sehelai rambut pun!

***

Hari ini aku diajak appa ke rumah sakit. Appa terkejut melihat kepalaku yang sudah botak. Aku pasti akan merindukan wajah mereka.. wajah Hyora, wajah Hyo Kyo, Park ahjumma.. wajah appa dan eomma..

Aku teringat suatu hal. Aku menoleh kepada Park ahjumma. Sekarang kami sedang berada di sofa, bersiap untuk ke rumah sakit. Aku merogoh sesatu dari kantong celanaku dan memberikannya pada Park ahjumma.

“ahjumma, apa kau tahu sekolahku?’ aku bertanya. Ahjumma sedikit berfikir.

“ah, ne nona. Wae?” aku tersenyum dan memberikan suratku pada Park ahjumma.

“tolong temui Hyora dan Hyo Kyo di sekolahku nanti jam 4 sore. Pastikan mereka menerimanya secara langsung” aku tersenyum.

***

Author POV

“appa..” reflek, appa Eunri menoleh mengahadap Eunri.

“waeyo? Sebentar lagi kita akan sampai” ujar appa Eunri dan kembali fokus menyetir. Tersirat ekspresi cemas dalam raut wajahnya.

“mianhae..” Eunri menundukkan wajahnya dan lagi-lagi ia menangis.

“untuk apa, nak?” appa Eunri semakin tidak enak hati. Perasaannya semakin gelsah.

“maaf untuk semua yang aku perbuat pada appa. Maafkan aku yang sering tidak sopan pada appa.. mianhae, saranghaeyo”

“nado saranghaeyo. Appa juga sangat menyayangimu” appa Eunri kembali fokus menyetir.

“appa..” Eunri kembali memanggil appanya yang sedang fokus menyetir.

“hmm?” appanya hanya menggumam. Takut terjadi kesalahan yang fatal saat ia mengemudi.

“aku ingin tidur. Tolong bangunkan aku saat kita sudah sampi nanti”

“tentu saja” Eunri tersenyum mendengarnya. Lama-kelamaan, kelopak matanya semakin menutup. Dia pun tertidur.

***

“halmeoni?” Eunri tersentak kaget melihat halmeoninya yang sudah meninggal yang kini menuju kerahnya dan memeluknya.

“kau kembali…” halmeoninya menunjukan seulas senyuman. Tapi, Eunri masih belum mengerti apa yag dikatakan halmeoninya.

“lihat itu” halmeoni Eunri menunujuk suatu lubang putih yang bersinar.

“disana masih ada appa dan eomma..” Eunri menunduk.

“kita akan menunggu mereka disini, menunggu mereka keluar dari lubang itu dengan sendirinya. Arra?” Eunri mengangguk riang dan tersenyum. Dia baru sadar, rambut yang indah dan cukup panjang kembali tumbuh di kepalanya. Kepalanya juga terasa ringan dan tidak ada lagi rasa sakit yang menjalar di kepalanya.

***

“kalian yang bernama Hyora dan Hyo Kyo?” Park ahjumma bertanya.

“ne, waeyo?”

“nona Eunri menitipkan surat ini pada saya, dia tidak bisa sekolah hari ini” Park ahjumma langsung pamit dari hadapan mereka berdua.

“surat?” Hyora dan Hyo Kyo menatap satu sama lain dan membuka surat tu perlahan, kemudian membacanya.

To               : Hyora dand Hyo Kyo

From           : Eunri

           Annyeong.. Hyora-ah, annyeong Hyo Kyo-ah! Maaf, aku hanya bisa berbicara melalui surat ini, aku terlalu takut untu mengatakannya langsung.

            Mungkin kalian membaca surat ini saat aku sudah tiada. Kalian tahu? Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena diberikan sahabat yang sangat baik seperti kalian. Kalian selalu menemani hari-hariku. Membuat keceriaan pada setiap hari yang kulalui.

            Kalian tahu? Alasanku utnuk tetap hidup adalah kalian. Ya, kalian sahabat terbaikku. Masih ingatkah kalian saat kita pertama bertemu? Kita hanya masih bisa menangis dan mengompol. Lucu sekali bukan?

            Aku ingin selalu menemani hari-hari kalian. Aku ingin menerangi setiap hari kalian. Tapi sayang, ada suatu hambatan. Aku difonis knaker otak oleh dokter. Kalian mungkin marah karena aku tidak memberi tahunya kepada kalian. Tapi, apa daya? Aku terlalu takut untuk bertemu kalian semenjak kejadian itu.

            Kalian tahu bagaimana rasanya saat mengetahui aku difonis kanker otak oleh dokter? Rasanya sakit sekali. Seperti ada benda yang sangat besar menghimpit dadaku. Makin hari, sel kanker itu semakin menjalar ditubuhku. Aku bosan meminum obat pahit yang tidak berguna itu. Justru penyakitku semakin parah.

            Apakah aku boleh untuk selalu menyayangi kalian sebagai sahabat terbaikku? Apakah boleh aku menganggap kalian sebagai saudaraku sendiri. Aku sudah menganggap kalian seperti itu sedari dulu.

            Apa aku pantas untuk menjadi sahabat kalian? Aku cukup sadar dan tahu diri. Aku jelek, sederhana, dan jahil, masih banyak sifat burukku yang lain. Tapi aku selalu ingin menjadi sahabat terbaik untuk kalian.

            Ahh, maaf. Kurasa suratku jelek dan berantakan. Air mataku terus mencoba untuk jatuh mengenai kertas ini. Aku menangis saat menulis surat ini. Kenangan kita dari dulu hingga sekarang muncul di depanku. Seperti film yang mungkin aku tidak akan pernah bosan untuk menontonnya.

            Terima kasih untuk kasih sayang yang kalian berikan selama ini untukku. Aku sangat berterima kasih pada kalian karena mau menerimaku sebagai sahabat kalian. Jeongmal gomawo.

            Berbahagialah untukku, carilah sahabat baru yang sesuai dengan kalian. Tapi, aku harap kalian tidak akan pernah melupakanku. Karena aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua. Sekali lagi, gomawo, saranghae jeongmal.

Yang menyayangi kalian,

Kim Eunri      

Park Hyo Kyo POV

“Hiks.. hiks..” aku tidak kuat membaca surat dari Eunri. Mianhae Eunri-ah.. mianhae jeongmal.

Tanganku bergetar memegang surat dari Eunri. Entah sudah berapa kali air mataku jatuh mengenai kertas Eunri.

Apa kau tidak tahu yang kami rasakan Eunri-ah. Kami juga sakit sepertimu. Kami sakit karena kau tidak mau berbagi rasa sakitmu pada kami. Dulu kita sudah berjanji agar menceritakan semua masalah yang sedang kita hadapi untuk mengahadapinya dengan tegar bersama-sama.

“nado saranghae, Eunri-ah..” suaraku bergetar. Hyora mengelus punggungku dan tersenyum.

***

Author POV

Hyora dan Hyo Kyo menebarkan bunga yang indah di makam Eunri. Mereka masih tersedu-sedu dan tidak menyangka bahwa sahabat terbaik merek sudah tiada.

“ahjussi.. kami turut berduka cita terhadap kematian Eunri..” appa Eunri berbalik dan tersenyum.

“ne, gamsahamnida.. apa aku boleh bertanya?”

“silahkkan..” Hyora menjawab.

“apa kalian sahabat-sahabat Eunri?”

“ne, kami memang sahabatnya, ahjussi. Kami sangat merasa kehilangan atas kematian putrimu..” Hyo Kyo kembali menangis.

“terima kasih karena sudah menganggap putri saya sebagai sahabat kalian” appa Eunri tersenyum. Mereka berdua membalas senyum dari appa Eunri.

Hyora, Hyo Kyo, dan Kyuhyun sudah menghabiskan waktu mereka untuk berada di pusara Eunri. Appa dan eomma Eunri juga sudah pulang dan hanya tersisa mereka berdua. Mereka kembali menjatuhkan air mata mereka, tapi dengan sigap mereka langsung menghapusnya. Tidak mau air mata mereka jatuh ke pusara indah Eunri.

“Eunri-ah.. saranghae, jeongmal..” Hyora memeluk pusara Eunri sambil menangis.

“nado.. bawalah senyum indahmu pergi, Eunri-ah! Biarkan kasih saara Eunri.

‘Gomawo, nado saranghae..’ terlihat bayangan Eunri dihapyang kami untukmu selamanya” Hyo Kyo juga ikut memeluk pusara Eunri.

“saranghaeyo, yeongwonhi..” Kyuhyun tersenyum lebut. Mengusap pusan mereka dengan menggunakan baju serba putih yang sedang tersenyum manis menghadap mereka berdua.

‘terima kasih karena telah memberi kami arti persahabatan yang sesungguhnya, Kim Eunri’ batin Hyora dan Hyo Kyo.

***

The End

***

Kyaa~~ ff nya ancur banget ua? -..-v

Mianhae kalau banyak typo..

Keep read, like, and comment.. oke?😉

22 thoughts on “Goodbye, my Friends..

  1. Nam Riiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! kamu bikin cerita kok kayak giniiiiii.Aku nangis bacanya TAHU!!!!!!!!!!!!!!!!😦

  2. Mianhae,, namaku disini bukan Namri, tapi Eunri..
    Wehehehe.. nangis ya? Kkk~
    Berarti berhasil dong!
    Gomawo. Ester.. udah mau baca disini… *bow*

  3. hiks… hiks… nangis aku fanny… kyaaaaa aku mau nangis ama wookie oppa dulu ah #plak
    dari dulu aku pengen bikin sad yg bisa bikin nangis gini tp gagal😦
    daebak fanny (y)

    • WPnya rachel itu superjuniorelf1321.wordpress.com
      Klo yg cwek” itu ulzzang.. Cari aja di mbah google🙂
      Gwaenchana, gak usah sungkan sm aku #plak

  4. Aku nangis thorr T-T
    Ceritanya kek aku, tapi aku ga sakit ;3
    Daebakk! FF ini sukses bikin aku nangis
    Keep writing thor~~!!
    Banyakin bikin ff sad friendship gini ^^

If you comment, I prayed for you to meet your bias ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s