Secret Place (part 1)

Author       : Kim Hye Min

Tag               : Kim Eunri, Cho Kyuhyun, Lee Donghae, and others..

Genre          : school life, friendship

Title             : Secret Place (part 1)

koreanfflovers4ever.wordpress.com

***

Kim Eunri’s POV

Disinilah aku sekarang, di depan sebuah gedung bertingkat yang mewah. Tempat ini, akan menjadi tempatku menimba ilmu untuk 3 tahun kedepan. Seoul International High School.

Tidak mudah bagiku untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku memang bukan orang yang pintar bersosialisasi. Apalagi tempat ini jauh berbeda dengan sekolahku yang dulu. Sekolah ini bahkan menggunakan 3 bahasa. Padahal aku tidak terlalu menguasai bahasa inggris. Ini semua karena appaku. Ya, appa yang menyuruhku untuk masuk ke sekolah ini.

3 hari sudah aku mulai belajar di sekolah baruku ini. Tapi sampai sekarang aku masih belum memiliki teman. Sepertinya kepopuleranku hanya bertahan sampai aku berada ditingkat Junior High School. Tidak mudah bagiku untuk melupakan teman-teman lamaku. Terutama Hyora dan Hyo Kyo.

Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam gedung mewah yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap ini. Aku mulai menaiki anak tangga, karena kelasku berada di lantai 3.

KRINGGG

Pas sekali! Bel sekolah berbunyi nyaring yang menandakan aku harus masuk ke kelasku. Kelas baruku.

Greet!” ucap ketua kelas. Kalau tidak salah namanya Ji Sung.

Good morning Mr. Shin,” ucapku serentak dengan anak-anak lain di kelasku saat Shin Seonsaengnim memasuki kelas.

Good morning, everyone. Ok, now we’ll pray. Sang Young, please come here,” suruh Shin Seonsaengnim. Sang Young pun langsung maju ke depan dan memimpin doa dan juga devotion.

“…….. Amen,” Sang Young mengakhiri doanya.

“Selanjutnya pelajaran biologi. Siapkan jas lab kalian lalu silahkan menuju ke lab biologi,” suruh Shin Seonsangnim, kali ini menggunakan Bahasa Korea. Semua anak termasuk aku cepat-cepat mengambil jas lab dan menuju ke lab biologi. Apa yang akan dilakukan kali ini?

Greet!” teriak Ji Sung.

Good morning Mr. Choi,”

Good morning, everyone. Today, we will operation the frog. Please make the team!” ujar Choi Seonsaengnim tegas. Mwoya?! Operasi katak?! Aish! Aku takut katak! Dan aku juga tidak punya teman untuk menjadi teman kelompok! Hya~ eottokhe?!

Sorry Mr. Choi, but how many people on one team?” tanya seseorang yang tidak kuketahui namanya. Yah, aku memang belum berkenalan dengannya.

Just 2 people,” terang Choi Seonsaengnim. Jumlah murid di kelasku ada 24 murid, berarti pas. Tapi aku masih bingung akan bekerja kelompok dengan siapa. Ya Tuhan, semoga ada yang mau mengajakku bekerja kelompok.

Sit together with your partner,” semua murid, kecuali aku pun langsung duduk bersama rekannya masing-masing. Sedangkan aku masih dengan wajah bodoh memperhatikan Choi Seonsaengnim.

“Kim Eunri, apa ada yang salah? Kau tidak punya pasangan? Ah, Cho Kyuhyun! Kau berpasangan dengan Kim Eunri!” eh? Kenapa ini? Aku disuruh duduk dan bekerja sama dengan namja yang belum aku kenal itu?!

Shireo!” tolak namja itu. Ah, baguslah. Aku juga tidak mau dengannya. Wajahnya angkuh sekali.

Why? She doesn’t has any partner. And you too! So, you must be a partner for her!” Glek! Mampus aku! Namja itu memicingkan matanya kearahku. Aish, dia seperti setan!

Whatever,” desis namja itu pelan, tapi aku bisa mendengarnya. Lalu dia duduk di sebelah tempat dudukku sekarang.

Ok, one people from the team, first, please take the frog,” suruh Choi Seonsaengnim.

“Kau yang maju!” ujar Cho Kyuhyun, yah namanya Cho Kyuhyun. Itu yang kudengar tadi dari Choi Seonsaengnim.

Naega wae? Shireo!” tolakku. Aku takut katak!

“Aish… kau merepotkan! Hanya maju dan mengambil katak itu apa susahnya?!” bentak namja itu.

“Aku takut katak!” balasku membentak, tapi dengan volume suara kecil.

Mwoya? Takut? Muahahaha… kau takut katak? Katak hanya binatang! Apa yang harus ditakutkan? Yang ada katak itu yang takut padamu! Bodoh!”

“Kim Eunri? Cho Kyuhyun? Kenapa diantara  kalian tidak ada yang maju ke depan?” sela Choi Seonsaengnim. Kyuhyun pun langsung maju ke depan papan tulis dan mengambil katak yang nanti akan menjadi bahan operasiku.

“Ini!” sentak namja itu mengagetkanku. Tunggu, ini apa yang ada diatas tanganku? Plastik berwarna hitam, isinya kenyal, yah begitulah yang kurasakan.

“Ini… apa?” tanyaku ragu.

“Katak,”

MWOYA????!!!! HYAAA!!!! Jauhkan itu dariku!!!!” teriakku keras. Yah baiklah, aku sedang tidak bisa mengontrol diriku hari ini. Semua pandangan mengarah kearahku. Namja itu pun menjauhkan plastik berisi

Chuisonghamnida,” ucapku sambil membungkuk. Seketika, anak-anak lain pun mengalihkan pandangannya kearah Choi Seongsaenim.

“Memalukan!” ejek namja itu. Oh, baiklah. Bersabarlah, Kim Eunri! Mentalmu sedang diuji hari ini.

Ok, open your book, page 427. Look at steps on book to operation the frog. Ready?

Start,” aku mengalihkan pandanganku ke katak malang yang akan menjadi korban operasiku dan juga namja di sebelahku ini. Lalu aku menoleh ke samping dan melihat namja itu sudah mengambil pisau bedah yang akan digunakan untuk membedah katak itu.

Namja itu sudah mengambil ancang-ancang untuk ‘membuka isi perut’ dari katak itu. Tapi aku menahan lengannya.

“Kyuhyun-ssi! Chakkaman,”

Mwo? Wae?! Nanti waktunya tidak akan cukup! Dasar bodoh! Kau merepotkan!” ketus namja itu. Nyaliku sedikit menciut, namja itu menyeramkan sekali! Seperti setan yang akan menelanku hidup-hidup!

Setelah memarahiku tadi, namja menyeramkan itu mengambil pisau bedah itu dan kembali mengarahkan pisaunya ke katak itu. Demi Tuhan, aku tidak tega melihatnya! Aku menutup mataku karena takut melihat ‘kejadian’ yang sebentar lagi akan terjadi.

“YA! Bodoh! Untuk apa kau menutup matamu?! Kau kira aku akan membunuhmu?! Tidak akan!” aishh… namja ini berisik sekali! Ingin kusumpal mulutnya dengan sepatuku!

Shikkeureowo! (berisik!), aku menutup mata bukan karena itu, bodoh! Aku takut dengan apa yang akan kau lakukan dengan katak malang itu!” bentakku. Lama-lama suaraku bisa habis kalau bertengkar terus dengan namja setan di sebelahku ini.

“Jangan memanggilku bodoh! Aku itu pintar! Tidak sepertimu! Bodoh, jelek, pendek, seperti bebek! Kau berbeda 180º denganku! Jadi jangan berani-berani merendahkanku seperti tadi! Dasar babo yeoja!” dengan segera aku menendang kaki namja itu. Berani sekali dia padaku?! Tidak tau aku pemegang sabuk hitam taekwondo?!

“Aishh… appo!” ringis namja itu sambil menghadap kearahku. Aku bersikap tidak peduli dan memeletkan lidahku. Huh, rasakan! Memangnya enak?!

“Aku baru mengenalmu tadi, tapi kenapa kau sudah berani mengejekku seperti tadi?! Kau tidak sopan! Tau dari mana kau kalau aku bodoh! Aku tidak sebodoh yang kau kira! Aissh… sial sekali aku bertemu denganmu!” protesku. Dia hanya mengidikkan bahunya. Jinjja!

“Aku mengatakan itu karena aku memang tau yang sebenarnya! Kau itu bodoh! Menyusahkan!” bentak namja itu. Memangnya aku peduli?!

Author’s POV

“YA! Kenapa dari tadi kalian berdua bertengkar?! Mengganggu saja! Keluar dari lab sekarang! Tunggu sampai pelajarn selesai baru kalian baru boleh kembali ke kelas!” tegur Choi Seonsaengnim. Kyuhyun dan Eunri pun berjalan kearah pintu keluar. Kedua dari mereka terus menggumamkan kata umpatan karena kesal. Tak henti mereka saling memaki satu sama lain dalam hati.

“Karena kau aku jadi tidak boleh ikut pelajaran! Huh!” dengus Eunri kesal. Dia sedang berusaha mati-matian agar tidak melayangkan tinjuannya ke namja yang ada di hadapannya saat ini.

“Kau pikir hanya kau saja!? Aku juga! Ini bukan salahku! Salahmu duluan yang membuat emosiku naik!” bentak Kyuhyun tidak kalah keras. Mendengar ucapan Kyuhyun, Eunri kembali menendang kaki Kyuhyun dengan brutal.

“YA! Kau itu namja atau yeoja?! Kenapa kau brutal sekali, hah?!” bentak Kyuhyun sambil meringis kesakitan. Tenaga Eunri ternyata besar sekali! Mungkin kakinya bisa membiru karena ulah Eunri.

“Memang kenapa?! Lagian itu bukan urusanmu!” ujar Eunri sinis sambil berjalan meninggalkan Kyuhyun.

***

KRINGGG

Bel istirahat berbunyi, semua murid pun langsung berlari menuju kantin agar tidak terlalu lama mengantri. Begitu juga dengan Eunri, tetapi dia tidak keluar kelas untuk ke kantin. Hari ini dia membawa bekal, dan dia ingin mengahabiskan bekalnya di taman belakang sekolah.

Eunri melangkah ringan sambil bersenandung kecil. Tanpa ia sadari, sebenarnya ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan benci. Orang itu sengaja akan menyandung Eunri saat dia lewat agar Eunri terjatuh.

BRAAKKK

“Aissh… appo!” ringis Eunri. Dia tersandung jatuh karena ada batu yang tidak dilihatnya. Tapi, sebenarnya itu adalah ‘rencana’ seseorang untuk membuat malu Eunri.

“Hahahaha… lihat! Yeoja itu memalukan sekali!”

“Hei! Apa yeoja itu tidak punya mata? Batu sebesar itu masa dia tidak lihat?!”

“Dasar yeoja bodoh! Memalukan!”

“Hei~ bukankah itu tadi yang di dalam lab bertengkar dengan Kyuhyun? Hah, bodoh sekali yeoja itu! Benar-benar memalukan!”

Yah, begitulah komentar orang-orang yang tadi melihat Eunri jatuh dengan mulusnya ke lapangan sekolah. Hampir saja Eunri melayangkan tinjuan kearah mereka kalau dia tidak bisa meredam emosinya.

Eunri berniat untuk bangun berdiri sendiri, tapi tiba-tiba ada tangan di depan wajahnya. Membuat Eunri terkesiap kaget dan kembali jatuh terduduk.

“Perlu kubantu?” tawar namja itu ramah.

“Tidak usah!” bentak Eunri sambil menepis tangan namja itu. Eunri segera berlalu dari hadapan namja itu dan berlari tak tentu arah. Tanpa mempedulikan darah yang sedari tadi terus keluar dari lututnya, dia tetap berlari. Dia butuh tempat yang tenang tanpa orang lain. Sekarang.

“Arghhh! Sial, lututku berdarah dan pergelangan kakiku terkilir!” ringis Eunri.

Setelah menaiki beberapa anak tangga dengan susah payah, Eunri sampai di sebuah tempat yang… sepi? Ya, sepi. Tidak ada orang selain dirinya di sini. Mungkin ini atap sekolah ini? Eunri berjalan menuju ujung tembok yang ada di sana. Dia duduk dan meringkuk, membenamkan wajahnya di kaki yang telah ia lipat sila. Tanpa dia sadari, ia menangis. Kenangan dengan teman-temannya di Junior High School terus berputar seperti rol film.

Sekarang, di Senior High School ini, dia masih belum memiliki teman yang dapat menjadi sandaran baginya. Tak ada tempat untuk dia mengadu. Dia harus memendamnya sendiri, walaupun itu sangat sulit dilakukan. Tapi… mau bagaimana lagi? Bahkan, untuk mencari teman pun tidak semudah yang dia bayangkan. Ditambah lagi dengan kejadian memalukan barusan. Apa dia masih bisa memiliki teman?

CKLEK!

Lamunan Eunri terbuyarkan saat dia mendengar suara aneh yang berasal dari dekat pintu. Dia beridir lalu menoleh ke arah pintu dan mendapatkan seorang namja yang sedang membuka pintu lalu menutupnya kembali.

“YA! Neo?!” teriak Eunri kaget sambil menunjuk wajah namja yang baru saja datang ke ‘tempat persembunyian’ barunya.

Mwoya?! Neo! Sedang apa kau disini?!” teriak namja itu protes.

“Ini tempat rahasiaku!” jawab Eunri.

“Huh?! Tempat rahasiamu?! Ya! Jangan seenaknya kalau bicara! Jelas-jelas aku menemukan tempat ini duluan!” ujar namja itu keras.

“Hah, sial sekali hidupku bertemu dengan yeoja bodoh sepertimu!” lanjutnya, tapi dengan volume suara kecil. Meskipun pelan, Eunri dapat mendengarnya dengan jelas.

Mwoya?!” Eunri melotot kesal kearah namja itu. Tetapi diabaikan oleh namja itu.

“Kau… sedang apa disini?! Pergi dari tempat rahasiaku!” tanya namja itu kasar. Eunri mendesah pelan.

“Huufft… baiklah,” jawab Eunri pasrah sambil berjalan kearah pintu.

“Hei! Kau habis menangis?!”

“Tidak. Memang kenapa?”

“Aku tau kau menangis. Dasar yeoja cengeng! Ternyata dirimu itu buruk sekali! Oh iya, jangan berani datang lagi kesini, arrasseo?!” ujar namja itu dengan nada yang dibuat-buat. Eunri mulai melanjutkan jalannya yang sempat tertunda karena namja menyebalkan yang terus mengajaknya bertengkar.

“Kakimu… kenapa? Kenapa kau berjalan pincang? Bukankah kau tadi berjalan normal?” tanya Kyuhyun, dengan intonasi suara yang lebih lembut.

“Bukan urusanmu!” Eunri melanjutkan jalannya dengan kaki pincang, tetapi saat teringat sesuatu, dia berbalik dan memeletkan lidahnya.

“Dasar Cho Kyuhyun setan!” teriak Eunri disambut dengan pelototan tajam dari Kyuhyun. Setelah puas, Eunri langsung berlari kebawah karena kelasnya ada di lantai 3.

“Menyebalkan sekali namja itu!” gumam Eunri saat berjalan menuju kelasnya.

“Arghh… sial! Kakiku sakit sekali!” rintih Eunri. Bahkan sampai sekarang, lututnya masih belum berhenti mengeluarkan cairan kental berwarna merah itu. Dan lagi pergelangan kakinya, yang tadi berwarna biru, sekarang sudah berwarna keunguan.

“Eh? Agasshi, gwaenchana?” tanya seseorang sambil menepuk pelan pundak Eunri.

“Gwaenchana,” jawab Eunri sambil menepis tangan namja itu sopan. Tapi saat akan melanjutkan jalan, kakinya sudah benar-benar tidak bisa toleransi lagi. Eunri terjatuh di lantai, untung saja lorong ini sedang sepi. Kalau tidak, pasti dia sudah menjadi bahan tertawaan lagi.

Namja itu sigap membantu Eunri, dia berlutut untuk melihat luka Eunri. Eunri hanya pasrah, karena dia tau, tidak mungkin dia berjalan sendiri dengan keadaan kaki yang mengenaskan seperti ini.

Aigoo~ lututmu berdarah! Pergelangan kakimu juga membiru dan mulai berubah warna jadi ungu!” oceh namja itu. Eunri merintih pelan saat pergelangan kakinya dipegang oleh namja itu.

Neo… bukankah kau yang tadi tersandung di lapangan?”

Ne, itu memang aku. Wae? Mau mentertawakan aku? Silahkan, aku tidak akan marah,” ujar Eunri sedikit ketus. Namja itu tersenyum melihat tingkah Eunri.

“Tidak. Aku tidak akan mentertawakanmu. Kau tidak ingat denganku?” perkataan namja itu membuat Eunri mengernyit heran.

“Aku tidak ingat. Memang kau siapa?” tanya Eunri polos.

“Aku yang tadi mau menolongmu di lapangan. Tapi kau malah menepis tanganku. Padahal aku bermaksud baik,” jawab namja itu. Eunri tertegun mendengar perkataan namja itu.

Chuisonghamnida, aku tidak bermak—”

Dwaesso. Gwaenchana,” potong namja itu. Eunri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau harus ke UKS. Ayo, aku bantu!” namja itu lalu membantu Eunri berdiri, dan memapahnya sampai ke UKS. Setelah sampai, namja itu mengambil obat yang dibutuhkan untuk mengobati luka Eunri.

“Aww~” ringis Eunri saat namja itu menempelkan kapas yang sudah diberi antiseptik ke luka yang ada di lutut Eunri.

Mianhae,” sahut namja itu. Eunri hanya tersenyum tipis menyembunyikan rasa sakitnya.

“Sepertinya kakimu terkilir,” namja itu menatap wajah Eunri dengan tatapan khawatir.

Ne, aku tau,” jawab Eunri. Namja itu beridiri karena sudah selesai mengobati luka Eunri.

“Ah! Sudah selesai!”

“Ehm, gamsahmnida……”

“Lee Donghae,” ucap namja itu. Sedari tadi dia lupa mengenalkan dirinya.

“Ah ne, gamsahmnida Lee Donghae-ssi,” ujar Eunri sambil membungkuk.

Gwaenchana. Oh iya, tadi aku sudah meminta ijin ke kepala sekolah karena kau datang terlambat ke kelas,”

Aigoo~ kau benar-benar baik, Donghae-ssi! Gamsahamnida,” namja yang bernama Donghae itu kembali tersenyum.

“Hahaha… tidak usah canggung padaku! Oh iya, kau belum memperkenalkan dirimu!”

“Ah iya, Kim Eunri imnida. Aku kelas X-1,”

Geuraeyo… berarti aku lebih tua 1 tahun darimu. Aku kelas XI-2,”

Jinjjayo?!” pekik Eunri. Donghae mengangguk.

Mianhamnida, sunbae. Aku tidak sopan padamu,” Eunri membungkukkan badannya. Dengan sigap, Donghae langsung mencegah Eunri.

Aigoo~ yha! Tidak usah canggung padaku. Panggil aku oppa saja, arra?” ujar Donghae. Eunri mengangguk canggung.

“Anak pintar!” sahut Donghae sambil mengacak rambut Eunri pelan. Eunri tersenyum senang, akhirnya dia bisa mendapatkan orang yang dia rasa bisa dijadikannya sandaran. Melihat tingkahnya saja, Eunri sudah tau bahwa Donghae adalah orang baik.

“Kajja! Oppa antarkan ke kelas! Kebetulan jam pelajaran oppa sedang kosong sekarang,” ajak Donghae. Eunri tersenyum dan mengangguk. Donghae langsung  membantu Eunri berjalan.

“Mianhae oppa, aku banyak merepotkanmu,” ujar Eunri canggung.

“Hahaha… sudah kubilang tidak usah canggung denganku. Aku akan menganggapmu adikku sandiri. Eotte?”

Mwo? Oppa yakin akan menganggapku adikmu sendiri? Aku seorang yang ceroboh dan pelupa ini, akan dianggap adik olehmu? Aigoo~ pikirkan dulu baik-baik, oppa! Jangan sampai menyesal!”

“Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu? Kau itu hanya terlalu polos dan lugu, Eunri-ah! Ehm… kau lupa denganku ya? Sebenarnya dulu aku sunbae-mu saat di junior high school,”

Jinjjayo?! Ah, mianhae oppa. Aku lupa,” Eunri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“…….. dan aku pernah menyukaimu, Eunri-ah!”

***

To Be Continued

***

Ya, kembali dengan ff yang amat-sangat-teramat-sangat (?) membosankan. Iya kan? Hayo ngaku! (?)

Hadeuhh… mianhae klo banyak typo di ff in *authorsihsokpkeb.ing* #plak

Sebelumnya aku mau minta maaf karena jarang update akhir-akhir ini. Aku kan baru masuk SMP, dan aku masuk ke nyaris inter-school, dan sekolahnya itu fullday. Pulangnya sore menjelang malam (?) klo ada kegiatan lain pulangnya bisa jam 5, nyampe rumah bisa jam 7 atau setengah 8, itu juga hari biasa. Makanya waktu buat main komputer jadi berkurang. Huhuhu ToT

Tapi aku usahain, 2 minggu sekali bakalan update. Jadi sabar aja ya…

Ehm.. dan maaf kalo ff aku tuh kaya sama semua. Idenya itu-itu terus… Aku cuma mau bilang kalau otakku itu lagi buntu dan gak ada inspirasi. Belum lagi pusing sama urusan sekolah, PR, dan blablabala…. So, jeongmal mianhae, yeorobun…

4 thoughts on “Secret Place (part 1)

  1. iya, ya… Tugas pr ini itu…
    MENYEDIHKAN!!!!
    Nasib yah sekolah itu…
    Hiiiiiks

    Btw, cerita nya masih belum rinci, ayo update lg!!!

If you comment, I prayed for you to meet your bias ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s