Love’s Art -part 1-

Title : Love’s Art -part 1-

Author : Catherine Crystal and Tiffanny_ELF

Part 1’s author : Catherine Crystal

Main Casts :

  • Kim Eunri
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyun Woo
  • Yoo Sang Mi
  • Park Min Chan

Genre : romance, drama

Length : continue

Rating : General (G)

Disclaim : this plot is ours! so don’t take it or claim it as yours!

Note : tulisan dengan warna oranye artinya kejadian di masa lalu. Don’t be confused~

~Love’s Art~

“Eunri-ah!” seorang pria kecil berbaju kuning berlarian sambil menghampiri seorang gadis kecil yang sedang duduk di ayunan taman. Gadis yang dipanggil Eunri itu menoleh dan tersenyum.

“Oppa!” Ia menepuk-nepuk ayunan di sebelahnya agar pria itu duduk di sana. Si pria pun duduk dengan nafas yang terengah-engah.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya pria kecil bernama HyunWoo itu dengan riang.

Eunri hanya tersenyum sambil menunjuk sebuah gedung yang terlihat sangat megah dari jauh. HyunWoo pun mengikuti arah Eunri menunjuk.

“Whoaa~ gedung apa itu? Besar sekali!” pekiknya.

“Itu Jungdeok art high school oppa… sekolah kejuruan yang sangat populer. Katanya, banyak penyanyi, pelukis, fotografer, dan aktor terkenal yang juga lulusan dari sana! Keren kan oppa?”

“Wah… keren sekali! Eunri-ah… apa kau juga ingin masuk ke sana suatu hari nanti?”

Eunri mengangguk dengan bersemangat, “Tentu saja! Siapapun yang lulus dari sana pasti akan sukses dan terpandang… tapi, kata orang-orang, kau harus mendapatkan nilai rapor yang sangaaaaat baik untuk bisa masuk ke sana”

“Jinjja? Kalau begitu aku juga ingin masuk ke sana! Aku ingin menjadi aktor terkenal” ujar HyunWoo.

“Tapi oppa kan bodoh” kata Eunri santai dan mengundang jitakan kesal HyunWoo.

“Yaa! Aku tidak sebodoh itu! Aku yakin jika aku belajar keras untuk bisa masuk ke sana, maka aku bisa” seru HyunWoo.

“Jinjja? Aku akan tunggu oppa membuktikannya. Kalau kita sudah besar nanti, kita akan pergi ke sana bersama-sama” tantang Eunri.

“Geudae, aku akan belajar dengan giat agar bisa masuk ke Jungdeok bersamamu”

Eunri pun tersenyum sambil memandang sahabatnya itu. Ia tahu HyunWoo memiliki tekad yang kuat, maka Eunri percaya suatu saat nanti mereka bisa memasuki Jungdeok dan lulus sebagai orang terpandang.

~0~

“Anak-anak, kita akan mengadakan ujian persahabatan antara jurusan fotografi kelas A dan seni kelas A. Ini sekaligus merupakan ujian pertama kalian di Jungdeok” ujar guru berambut cepak yang saat ini sedang berdiri di depan kelas.

Eunri melebarkan matanya dengan antusias. Ujian pertamanya! Ia harus mendapatkan nilai baik dan berusaha semaksimal mungkin.

“…ujian akan dilaksanakan hari Selasa minggu depan, dan hasil harus dikumpulkan pada hari Kamis setelah diedit dan dibawa dalam amplop cokelat bertuliskan nama, kelas, dan nomor absen masing-masing”

Eunri menajamkan telinganya agar dapat mendengar dengan seksama bagaimana ujian ini akan berlangsung. Tangannya ikut bergerak menuliskan apa yang dibicarakan sang guru dalam buku catatan tugas hariannya.

“…ujian dilaksanakan di ruang praktek jurusan seni kelas 1. Waktu untuk memotret adalah setengah jam, tapi kalian harus tetap berada di ruangan selama 2,5 jam. Ambillah sebanyak mungkin objek gambar berupa para siswa kelas seni yang sedang melukis kalian. Ingat, ambil SEBANYAK MUNGKIN walaupun pada akhirnya hanya satu yang akan dikumpulkan, siapa tahu kalian bisa memilih yang paling baik. Alasan kalian harus tetap di ruangan selama 2,5 jam adalah untuk memberi kesempatan siswa jurusan seni untuk melukis kalian”

‘Menantang,’ batin Eunri sambil tersenyum simpul. Ini adalah bulan keduanya di Jungdeok Art High School. Ia masuk ke kelas A jurusan fotografi. Walaupun pada awalnya ia merasa sedih karena tidak berada dalam gedung yang sama dengan sahabatnya—Hyunwoo—karena ia memilih jurusan teater, tapi pada akhirnya ia bisa beradaptasi dengan baik dan tetap bersahabat dengan Hyunwoo.

Ya, masuk ke Jungdeok memang adalah impian mereka sejak masih duduk di bangku SD, tapi bukan berarti dengan tercapainya mimpi itu mereka akan berhenti berjuang. Justru mereka semakin berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Dan ujian ini adalah salah satu faktor penentunya. Jadi Eunri harus berjuang mati-matian untuk ujian pertama ini.“…jelas anak-anak?”

“Jelas…” teriak semua siswa secara bersamaan.

“Kalau begitu kalian boleh istirahat”

Semua siswa pun mulai berhamburan keluar. Eunri tetap duduk di mejanya sambil tersenyum-senyum senang.

“Hey!”

Eunri tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Wajahnya seketika mengerut setelah menoleh ke belakang dan melihat ‘pelaku’nya.

“Hyora!” teriaknya sambil berkacak pinggang. Bukannya takut, orang yang ia panggil Hyora itu malah tertawa cekikikan.

“Kau harus lihat ekspresimu saat ini” serunya di tengah gelak tawa. Eunri ikut tertawa.

“Aku hanya bercanda” katanya, “Kajja, kau mau ke kantin?”

Hyora mengangguk, “Hari ini Hyokyo tidak masuk, dia mengirim SMS kalau dia demam parah”

“Jinjja? Jadi dia sekarang ada di kamar asrama?” tanya Eunri. Hyora mengangguk.

“Bagaimana kalau nanti kita jenguk dia di asrama seni?” saran Hyora, Eunri mengangguk dengan antusias.

“Geudae, mungkin membawakannya sedikit makanan dan senyuman bisa membuatnya lebih baik”

***

“Chamkamman Heerin-ah!!” teriak seorang gadis yang sedang berjongkok untuk menalikan tali sepatunya. Gadis yang ia panggil Heerin itu sudah berlarian mendahuluinya bersama seorang gadis lainnya yang bernama Ri Chan.

Heerin menoleh dan berdecak kesal, “Kau lambat sekali!”

Gadis itu memutar kedua bola matanya dan berdiri serta mulai berlari menyusul Heerin dan Richan. Hingga akhirnya ia sampai pada mereka dengan nafas terengah-engah.

“Ponimu” seru Richan. Gadis itu melebarkan matanya penuh tanya, seolah menanyakan maksud dari perkataan Richan barusan, “Ponimu berantakan”

Gadis itu hanya ber-‘oh’-ria lalu mengeluarkan jepit rambut dari saku bajunya. Ia pun menjepit poninya ke samping, “Jurus rahasia Yoo Sangmi” katanya sambil cekikikan.

“Sudah ah, cepat! Kalian membuang waktu, istirahat akan segera berakhir!” pekik Heerin sambil menghentakkan kakinya kesal. Sangmi dan Richan malah tertawa cekikikan membuat Heerin makin naik darah. Akhirnya Heerin berjalan mendahului mereka yang masih sibuk tertawa entah menertawakan apa.

“Arasseo arasseo… aku tidak ingin mengganggu orang yang sedang jatuh cinta” gurau Richan. Heerin berbalik dan melotot.

“Kau juga menyukai Donghae sunbae kan?” tantang Heerin. Richan terdiam, sekarang giliran Sangmi yang cekikikan sendiri melihat kedua sahabatnya.

“Sudahlah, kita mau ke kelasnya kan? Aku hanya menemani kalian, dan aku belum makan. Jadi sebaiknya kalian bergegas” ujar Sangmi setelah gelak tawanya mereda. Mereka bertiga pun berjalan dengan cepat menuju gedung jurusan teater Jungdeok. Sosok mereka hilang ditelan pintu gedung serta ratusan anak yang berkerumun di sekitar gedung.

***

Tok tok tok

Pintu kamar itu diketuk oleh Eunri.

“Hyokyo-ah? Ini Eunri dan Hyora!” teriak Eunri dari luar.

“Tunggu sebentar!” teriak gadis yang berada di dalam ruangan—yang bernama Hyokyo. Tak berapa lama kemudian, pintu dibuka dan tampaklah sosok seorang gadis yang berpakaian tidur, berwajah pucat, berkantung mata tebal, dan berambut acak-acakan sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

“Kalian datang” ujarnya.

“Aigoo~ Hyokyo-ah… lihat dirimu, seperti mayat hidup… ckckck…” gumam Hyora dengan wajah tertegun.

“Hyokyo-ah… berbaringlah di kasur, jangan memaksakan dirimu” ujar Eunri. Hyokyo kembali memaksakan sebuah senyuman.

“Badanku serasa remuk” ujarnya, “Ini semua karena kemarin malam aku hujan-hujanan, tadi pagi panasku sampai 39 derajat…”

“Aigoo~ jaga kesehatanmu. Jangan sering hujan-hujanan! Ini, kubawakan bubur, buah, dan tugas-tugas hari ini, aku pinjam dari teman sekelasmu” ujar Hyora sambil meletakkan barang-barang yang dibawakannya untuk Hyokyo di atas meja kamar.

Ya, Jungdeok art high school memang sebuah sekolah kejuruan berasrama. Asrama utama terletak di belakang gedung utama. Namun ada juga asrama tambahan yang terletak terpisah dari kompleks sekolah. Asrama tambahan digunakan untuk menampung guru-guru ekstra, murid-murid berlebih, serta tamu-tamu.

“Gomawo chingudeul…” ujar Hyokyo. Dijatuhkannya tubuhnya hingga menghantam kasur empuk dan dipejamkannya matanya, “Aku merasa sangat buruk”

Eunri dan Hyora memandangnya dengan khawatir. Semoga teman mereka itu cepat sembuh dan dapat kembali seperti semula.

***

“Jadi Hyokyo-ssi sedang sakit?” tanya Hyunwoo dengan mulut penuh roti. Eunri mengangguk lemas.

“Keadaannya sangat parah… aku ingin membantunya, tapi aku tidak bisa apa-apa”

Hyunwoo mengangguk-angguk sambil terus memakan rotinya dengan lahap, “Tapi kau kan sudah mengunjunginya dan membawakannya makanan serta tugas hariannya”

Eunri menghela nafas berat, “Tapi aku tetap ingin lebih membantunya”

Hyunwoo tidak merespon tapi ia terus memperhatikan Eunri. Sebelum akhirnya suasana berubah hening dantidak seorang pun di antara mereka berbicara, membiarkan orang lain yang berada di kafe sekolah itu bergumam sendiri tanpa diiringi suara mereka. Eunri tampak mengingat apa yang ingin dia bicarakan pada Hyunwoo, tapi ia sendiri lupa apa itu.

Untuk sesaat Eunri terus memutar otak sebelum akhirnya matanya melebar dengan antusias, “Oh iya!”

Hyunwoo langsung mengalihkan pandangannya pada Eunri dengan penuh tanda tanya, “Wae?”

“Minggu depan aku akan ada ujian!”

Hyunwoo ikut melebarkan matanya dengan antusias, “Jinjja? Ujian apa?”

“Photo taking and basic photo editing” jawab Eunri, “Bekerja sama dengan jurusan seni kelas A”

“Wah, itu keren~ aku akan mendukungmu, kalau kau mau, aku bahkan bisa membantumu” ujar Hyunwoo. Eunri menggeleng.

“Aku ingin berusaha dengan usahaku sendiri untuk ujian pertama ini” ujarnya, “Tapi gomawo” ia tersenyum dan membuat wajah Hyunwoo bersemu merah.

“Cheon-cheonmaneyo…”

***

A week later…

Kelas itu sudah ramai dengan suara-suara para siswa walaupun hari masih pagi. Eunri memasuki kelas dengan wajah cerah ceria sambil menggendong sebuah tas dan menenteng sebuah wadah hitam berisikan kameranya. Ia menarik kursi di ujung belakang dan meletakkan tasnya di atas kursi itu serta memasukkan kameranya ke dalam tempat khusus yang tersedia di setiap meja. Tempat khusus itu sebenarnya hanya laci biasa yang dipisahkan oleh sekat dari laci yang digunakan untuk hal lain, tapi laci khusus kamera itu mempunyai penutup yang terbuat dari kaca agar kamera itu tidak tersenggol oleh orang-orang. Penutup itu juga mempunya kunci sendiri yang dibawa masing-masing anak.

Hyora berlari menghampiri Eunri dengan wajah merah menahan gugup, “Eunri-ah, kau sudah siap?”

Eunri menatap Hyora sebentar sebelum akhirnya mengangguk dengan santai, “Aku sudah siap”

“Aduh… bagaimana ini? Aku sangat gugup”

“Santai saja, kau tidak akan mati hanya karena gagal ujian ini” gurau Eunri. Namun gurauan itu tidak mencairkan ketegangan di hati Hyora. Melainkan malah membuatnya mendengus kesal.

“Ya sudah, songsaengnim sebentar lagi masuk. Kau sebaiknya kembali ke tempat dudukmu” ujar Eunri, “Fighting!” sambungnya sambil mengepalkan tangan memberi semangat.

“Ne, fighting!” Hyora balas mengepalkan tangannya sebelum akhirnya berlarian kembali ke tempat duduknya.

Benarlah kata Eunri, Han songsaengnim segera masuk dan dalam sekejap seisi kelas menjadi hening.

“Stand up!” teriak sang ketua kelas. Semua murid pun berdiri, “Greet to the teacher!”

“Good morning, sir” ujar seluruh anak bersamaan kemudian kembali duduk.

“Good morning, baiklah, hari ini kita akan mengadakan ujian pertama. Sebelum kita bersama-sama menuju ruang praktek seni, dipersilakan untuk mempersiapkan segala keperluan dan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing” ujar Han songsaengnim. Seluruh anak pun mulai mengeluarkan kamera mereka lalu berdoa.

“Siap?” tanya Han songsaengnim.

“Siap” balas seluruh anak.

“Baiklah, kita langsung menuju ke gedung seni”

***

Eunri masuk ke ruang praktek seni yang telah dipenuhi siswa-siswi kelas 1-A jurusan seni bersamaan dengan teman-teman sekelasnya.

Dag dig dug

Jantung Eunri berpacu dengan cepat seiring dengan langkah kakinya memasuki ruangan. Ia duduk di kursi yang disediakan dan menunggu aba-aba untuk memulai praktek. Setelah aba-aba itu terdengar, ia berdiri dengan kaki gemetar. Mulailah ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Tak ada yang menarik untuk difoto.

Ia bingung siapa yang akan ia pilih sebagai objek fotonya yang menarik. Ia sama sekali tidak mengenal siapapun di sini. Dengan ragu, ia mulai menelusuri setiap anak. Matanya meloncat dari anak yang satu ke anak yang lain, begitu dan terus begitu selama beberapa menit.

Keringat dingin mengucur membasahi keningnya hingga menetes ke pipi putihnya. Tidak ia temukan ‘feel’ pada anak manapun. Semuanya terasa hampa dan sama saja. Jantungnya berpacu lebih cepat dan tubuhnya memanas. Ia kembali menelusuri setiap anak dari awal. Satu… dua… dan…

AH!

Matanya terpaku begitu melihat seorang pria tampan duduk sembari melukis di sudut ruangan. Tampan. Hanya satu kata yang mampu diucapkan—atau bahkan dipikirkan—Eunri saat melihat pria itu. Mendadak jantungnya berpacu lebih cepat dan lebih cepat lagi.

Ya, jantung Eunri berdebar melihat pria itu. Tanpa membuang waktu dan kesempatan, segera diangkatnya kamera dan…

CKREK!

Ia berhasil mengambil gambar pertamanya yaitu sang pria yang sedang melukis dengan tenang.

***

Tangan terampil pria bernama Kyuhyun itu menggoreskan garis-garis lembut yang membentuk sebuah lukisan indah di kanvas lukisnya. Mata Kyuhyun terfokus pada seorang yeoja yang menenteng kamera di tangan kanannya. Yeoja yang cantik.

Awalnya Kyuhyun hanya melukis dengan tenang. Namun lama kelamaan ia mulai merasa tidak nyaman dengan lukisannya. Tampaknya hampir semua anak dari kelasnya melukis seorang gadis lain. Gadis yang sebenarnya lebih cantik dari gadis yang dilukis oleh Kyuhyun—namun entah mengapa kurang menarik di matanya.

Rasa gengsi Kyuhyun timbul. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Mungkinkah nanti seleranya akan dianggap rendahan oleh teman-temannya atau bahkan ia akan dikira menyukai gadis yang ia lukis itu? Ah, tidak lucu sekali bila seorang pria tampan dengan gengsi tinggi sepertinya berakhir diolok-olok oleh teman sekelasnya.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Kyuhyun merobek kertas kanvasnya dan mengganti lukisannya dengan yang baru. Sementara lukisan aslinya ia lipat dan ia simpan di saku baju. Semoga pilihannya tidak salah untuk menggambar gadis populer itu dan tidak menurunkan nilai seninya karena melukis tanpa rasa.

Diam-diam Kyuhyun melirik gadis yang semula ia lukis. Matanya mencoba membaca tagname gadis itu.

Kim Eunri. Gadis yang sangat menarik.

***

“Sungguh, aku merasakan jantungku berdebar-debar dan tubuhku memanas saat melihat pria itu!” pekik Eunri dengan antusias. Matanya berbinar-binar dan wajahnya memerah menunjukkan kesenangan yang mendalam, “Aku tidak sempat melihat tagname pria itu, tapi yang jelas aku rasa aku suka padanya!”

Hyunwoo menatap Eunri sambil menyipitkan sebelah matanya, “Suka?” tanyanya dengan nada penuh selidik. Eunri mengangguk.

“Itu yang biasa dideskripsikan orang tentang perasaan suka, dan aku baru sekali ini mengalaminya!” serunya dengan senyum terlukis di wajah cantiknya, “Ah, aku membayangkan tatapan matanya yang teduh, tubuhnya yang tinggi semampai, dan sikapnya yang tenang. Benar-benar pria ideal”

Hyunwoo mengepalkan tangannya diam-diam. Baiklah, ia akui ia memang sudah lama menyukai Eunri dan sudah mati-matian mencari perhatiannya sampai memaksakan diri belajar agar bisa masuk ke Jungdeok bersama Eunri tapi Eunri sendiri sama sekali tidak meliriknya. Malahan Eunri langsung tergila-gila pada pria yang bahkan ia tidak ketahui namanya. Konyol bukan?

“Jinjja? Setampan itukah dia?” tanya Hyunwoo dengan nada tidak senang.

“Aku tidak berbohong!” seru Eunri, “Dia pria tertampan yang pernah kutemui”

“Tapi bagaimana kau bisa bilang suka padanya? Kau bahkan tidak mengenalnya” ujar Hyunwoo.

“Oh, ayolah… kau sendiri yang sering mengatakan bahwa cinta itu buta. Aku bahkan masih bisa merasakan debaran jantung itu hingga saat ini!”

Cukup. Hyunwoo sudah tidak kuat mendengarkan semua celotehan Eunri tentang pria-ideal-sempurna itu. Cukup hatinya dibuat kesal oleh celotehan-celotehannya. Ia butuh udara segar dan waktu untuk tenang sejenak.

“Aku harus ke toilet, kau masuk kelas duluan saja”

Tanpa menunggu jawaban Eunri, Hyunwoo segera pergi menjauh. Bukan ke toilet, tapi ke atap sekolah. Menenangkan pikiran sekaligus memikirkan cara untuk mengalihkan Eunri dari ‘cinta sesaat’nya itu.

***

Jangan sebut dia Kim Eunri kalau tidak memiliki kerja keras demi apa yang ingin dicapainya. Lihatlah apa yang sedang dilakukannya sekarang, berkutat dengan komputer serta bergulat dengan sebuah program bernama adobe photoshop untuk menyempurnakan foto yang diambilnya tadi siang.

Memang, foto itu sudah bagus tanpa perlu disempurnakan ulang. Tapi bukan kata ‘bagus’ yang diperlukan untuk nilai maksimal, melainkan kata ‘sempurna.’

Eunri menekan tombol zoom in untuk membantunya melihat jelas lebih dekat. Ia menjernihkan hasil fotonya dan menghilangkan beberapa kotoran yang ada di sekeliling si pria. Mata Eunri tidak bisa berhenti terfokus pada pria dalam fotonya. Sangat tampan.

Tanpa sadar, Eunri tersenyum-senyum sendiri sambil mengedit foto itu. Pria yang sempurna. Tiba-tiba otak Eunri memikirkan sebuah ide. Dengan brutal, ditekannya tiga kali tombol zoom in sehingga foto yang ada di hadapan Eunri menjadi sangat ‘dekat.’ Digesernya tampilan foto tersebut dan melihat sebuah kotak di dada kiri pria itu. Tagname-nya! Eunri terus menggesernya untuk melihat secara utuh. Namun sayang, ternyata sebagian tagname-nya tertutup oleh kanvas lukis yang terletak di depannya.

Eunri tidak kehabisan akal, dibukanya satu-per-satu hasil fotonya yang berjumlah 31 foto demi mencari tampilan utuh dari tagname pria itu. Namun sayang, tidak ada yang menampilkannya secara utuh. Terpaksa, Eunri membaca tulisan yang ada. Biar bagaimanapun ia memerlukannya untuk mencari pria itu.

Cho…

Kyu…

Cho Kyu?

***

Eunri datang ke sekolah dengan mata panda yang biasa dibawanya ke mana-mana. Namun bedanya, kali ini lebih tebal. Karena sibuk mengedit hasil foto untuk ujiannya, malam tadi Eunri hanya tidur 2,5 jam saja. Waktu tidur yang amat sangat singkat.

“Eunri-ah… hahahahaha…” Hyora yang baru menghampirinya langsung tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Eunri yang acak-acakan ala orang bangun tidur.

“Tidak usah tertawa!” seru Eunri sambil menggembungkan pipinya lucu, “Aku sibuk bekerja kemarin malam”

“Mengedit foto?” tanya Hyora. Eunri mengangguk, “Aku bahkan belum mengerjakannya”

“Belum mengerjakaannya?” tanya Eunri dengan kaget, “Kau yakin hari ini bisa menyelesaikannya? Bukankah tugas itu sudah harus dikumpulkan besok?”

“Aku berencana lembur malam nanti. Setidaknya untuk menyelesaikan foto itu”

“Ohh…” Eunri hanya ber-‘oh’-ria. Tiba-tiba terbersit dalam otaknya untuk mengetahui siapa orang yang menjadi objek foto sahabatnya itu, “Hyora-ah… memangnya… siapa yang kau foto?”

Hyora tersenyum, “Cho Kyuhyun. Memannya kau tidak tahu? Hampir ¾ kelas ini mengambil foto dirinya. Dia pria paling tampan di kelas 1-A seni” jawab Hyora dengan cepat, “Yahh… kuakui dia memang tampan”

Mata Eunri melebar. Cho Kyuhyun? Nama yang familiar… Jangan-jangan dia juga adalah pria yang difotonya. Cho Kyu? Kenapa namanya mirip? Kalau benar begitu, apa mungkin bukan hanya dia yang merasakan berdebar-debar dan panas di sekujur tubuhnya, melainkan semua gadis?

Eunri menghembuskan nafasnya dengan kecewa. Ternyata memang bukan hanya dia. Cinta pertamanya dengan mudah digagalkan oleh sebuah kenyataan bahwa bukan hanya dia yang merasakan hal yang sama…

***

“PARK HEERIN!!!” teriakan Oh songsaengnim menggema di seluruh penjuru kelas. Heerin menutup telinganya sambil menundukkan kepalanya menghindari lemparan kapur dari sang guru, “Kau lagi-lagi lupa membawa tugasmu?!”

“Jeo… jeosonghamnida songsaengnim…” seru Heerin dengan lirih.

“Sekarang kau lari mengitari taman utama 20 kali putaran! Kalau sampai kau mengulanginya lagi, kau akan diskors selama 2 hari! Mengerti?!”

“Me-mengerti songsaengnim…” Heerin segera bangkit dari duduknya dengan lemas. Menyebalkan. Lupa membawa tugas dari seorang guru maut seperti ini adalah hal terburuk semasa hidupnya. Lari mengitari taman utama? Oh no… dia benci lari!

“Songsaengnim” seru Sangmi lantang, ia berdiri dengan tatapan menantang, “Aku ingin ikut berlari!”

Heerin membulatkan matanya mendengar perkataan Sangmi.

“Aku juga songsaengnim!” Richan yang duduk di deretan bangku paling belakang ikut berdiri sambil menantang Oh songsaengnim.

Oh songsaengnim membulatkan matanya, “Kalian semua sudah gila?! Duduk dan kembali ikuti pelajaran dengan baik!”

“Shireo!” teriak Sangmi, “Aku akan ikut berlari! Anggap saja aku tidak mengerjakan tugas!”

“Aku juga songsaengnim!” balas Richan.

Kehabisan akal, Oh songsaengnim menggebrak mejanya dengan keras, “Terserah kalian! SEKARANG CEPAT KELUAR DARI PELAJARANKU!!!”

Heerin, Sangmi, dan Richan segera keluar dari kelas dan menuju lapangan utama untuk melaksanakan hukuman.

***

“Yak, Park Heerin… ada apa lagi sampai kau lupa membawa tugas?” tanya Sangmi sambil berlari mengitari taman utama bersama Heerin dan Richan.

“Aku benar-benar lupa… kemarin aku membaca surat-surat dari teman-teman dan kelupaan mengerjakannya, jadi kupikir kutinggal saja tugasnya sekalian supaya tidak dihukum… Tapi ternyata…” Heerin membiarkan kalimatnya menggantung sambil menghembuskan nafas panjang.

“Rin-ah… memangnya kemarin surat dari siapa lagi yang kau terima?” tanya Richan.

“Banyak, dari kakak kelas, teman sekelas, anak kelas A, anak kelas C, semuanya dari jurusan fotografi” jawab Heerin, “Kenapa semuanya harus mengirimkan surat-surat itu di saat yang tidak tepat?!”

“Salahmu sendiri menjadi anak populer” cibir Sangmi.

“Memangnya kau tidak?!” Heerin balas mencibir.

Ya, Heerin, Sangmi, dan Richan adalah siswi kelas 1-B jurusan fotografi. Mereka adalah siswi-siswi paling populer yang terkenal cantik dan ramah.

Sayangnya, mereka sedikit ditakuti oleh siswa lain. Hal itu karena mereka agak pendendam dan pemarah. Sekali kau membuat masalah yang bisa sangat merugikan mereka, mereka tak akan segan-segan mengikutimu setiap hari untuk membuatmu jera. Yah, tapi itulah mereka. Hampir seluruh siswa menyukai mereka.

***

“Khamsahamnida ahjussi” seru Eunri ramah sambil membungkuk pada ahjussi di hadapannya. Di tangannya terdapat sebuah amplop kertas payung yang berisi foto yang baru saja dicetaknya dari ahjussi itu.

Eunri berjalan kembali menuju asrama dengan senyum terkembang. Hasil foto yang sempurna. Ia benar-benar akan mendapatkan nilai terbaik.

Dengan langkah kaki ringan, ia memasuki gedung besar asrama dan berbelok ke arah tangga. Matanya sedikit melirik lorong di sebelah kiri tangga yang betuliskan :

ART STUDENTS CLASS 1

Lorong yang berisi kamar-kamar anak kelas 1 jurusan seni. Dalam benaknya sudah terbayang wajah Kyuhyun dan tatapan matanya yang teduh. Tapi segera ditepisnya pikiran itu karena ia teringat akan teman-teman sekelasnya—well, tidak semua, tapi hampir semua.

Pada saat yang bersamaan, Kyuhyun keluar dari kamarnya sambil bersenandung kecil. Buru-buru Eunri berlari dan bersembunyi di balik tangga. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan tapi matanya tetap terfokus pada namja itu. Namja itu seperti magnet yang menarik matanya untuk tetap menatapnya sampai sosok tersebut hilang di tikungan.

Eunri menghembuskan nafas lega. Ia mengendap-endap mendekati kamar tempat pria itu keluar. Ia membaca nomor kamarnya.

ROOM 126 – KYUHYUN CHO

Harapannya hilang seketika setelah membaca nama yang tertera pada kertas yang diselipkan di tempat nama di pintu ruang nomor 126 tersebut. Ternyata benar dialah Cho Kyuhyun. Jadi pupuslah harapan Eunri.

***

Eunri menenteng amplop kertas payung di tangannya dengan wajah suntuk memasuki kelas. Di punggungnya terdapat sebuah tas yang berisi buku-bukunya. Seperti biasa, ia meletakkan tasnya di tempat duduk dan memasukkan amplop kertas payung berisikan hasil foto untuk ujiannya di laci.

Tanpa aba-aba, Hyora berlari-lari kecil menghampiri meja Eunri.

“Eunri-ah, aku mau lihat hasil fotomu” serunya dengan riang. Eunri menyerahkan amplop kertas payung di lacinya pada Hyora. Hyora membukanya dan seketika ia langsung tercengang kagum.

“Woah~ Eunri-ah, ini keren sekali! Ngomong-ngomong, kau juga memotret Kyuhyun rupanya” cerocos Hyora.

“Diamlah” seru Eunri, Hyora menatapnya penuh tanda tanya akan sikapnya yang aneh, “Diamlah, aku sedang mengantuk” ujar Eunri menjelaskan. Sesaat kemudian ia mejatuhkan kepalanya di atas meja dan menguap lebar-lebar.

Baiklah, kali ini ia benar-benar mengantuk.

***

KRIIING…

Jam istirahat ketiga telah tiba. Waktu menunjukkan pukul 5 sore lebih 45 menit. Hyunwoo bergegas keluar dari kelas dan berjalan cepat menuju gedung jurusan fotografi. Ia ingin mengawasi Eunri. Ia ingin melihat apa ‘gadisnya’ itu tetap seperti biasa. Apa ia baik-baik saja—tidak, lebih tepatnya apa ia dekat dengan seorang pria.

Sejak cerita Eunri hari Selasa lalu, Hyunwoo selalu memikirkannya. Memikirkan dan terus memikirkannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memata-matai Eunri setiap hari. Dan saat ini di mana aksinya akan dilancarkan.

Hyunwoo sampai di depan gedung jurusan fotografi. Setelah berhenti sejenak untuk menyiapkan mental, ia melangkah masuk ke dalam gedung. Dicarinya ruangan kelas 1-A.

Bingo!

Ia menemukan ruangan itu di sudut gedung. Tanpa basa-basi, ia mengintip ke dalam ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Tidak, maksudnya tidak ada Eunri. Hanya ada seorang gadis berjaket hitam dengan hoodie menutupi kepalanya sedang berdiri sambil menarik sebuah amplop kertas payung dari dalam laci di sudut kelas.

Hyunwoo menyipitkan matanya melihat gadis itu. Ia familiar dengan tas yang terletak di kursi tempat gadis itu mengambil amplop kertas payung. Itu adalah tas… tas… tas… ah, dia sedikit mencoba mengingat ingat.

Oh iya, itu tas Eunri!

Si gadis berhoodie itu akhirnya berhasil menarik amplop kertas payung itu dan berlari keluar tanpa sempat Hyunwoo sadari. Apa gadis itu sedang mencoba untuk mengambil hasil ujian Eunri?! Untuk apa?!

Tanpa berpikir lebih jauh, Hyunwoo segera menyusul gadis itu dan berlari mengejarnya.

“Hey!!!” teriaknya keras-keras. Ia mengejar gadis itu hingga ke taman belakang. Melompati kursi, menaiki meja, sampai melompati pagar pendek pun ia lakukan demi mengejar gadis itu. Ia sudah semakin dekat dengan gadis itu. Ia melompat, dan…

CKREK!

***

“Anak-anak dipersilakan keluar untuk mengambil foto pemandangan untuk ujian” seru Oh songsaengnim.

“Ye songsaengnim” sahut semua siswa. Heerin, Sangmi, dan Richan keluar bersama-sama dengan menenteng kamera mereka masing-masing.

“Jam berapa ini?” tanya Sangmi.

“Jam 6 sore, wae?” tanya Richan balik.

“Kajja, kita ke taman belakang untuk memotret sunset” ajak Sangmi.

“Oh iya, pintar sekali kau!” pekik Heerin, “Pasti beda dari yang lain”

“Makanya, kajja! Sunset sangat singkat”

Mereka bertiga pun berlarian menuju taman belakang dan mengambil posisi sudut yang baik untuk memotret sunset.

“Kajja, sebentar lagi matahari tenggelam!” seru Heerin. Mereka pun mengangkat kamera, dan…

CKREK!

Mata mereka melebar melihat hasil foto di kamera masing-masing. Sunsetnya terhalang oleh seseorang yang sedang berlari. Hasil foto mereka menjadi buram.

“Yak, siapa ini?!” pekik Sangmi sambil mengedarkan pandangan.

“Itu dia!” tunjuk Richan pada sosok seorang pria yang sedang berlari mengejar orang lain.

“Dasi seragamnya biru, dia anak jurusan teater! Untuk apa ke sini?” gumam Sangmi.

“Pria sialan! Sekarang apa yang akan kita potret?! Nanti kita harus melabraknya!” ajak Heerin penuh amarah.

“Ne!” balas Richan dengan bersungut-sungut.

“Kajja, kita foto air mancur di depan saja!” ajak Sangmi. Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan tempat itu dengan hati dongkol. Dalam hati, mereka berjanji tidak akan melepaskan pria itu.

***

Hyunwoo terus mengejar si gadis yang ia-tidak-tahu-siapa itu sampai ke sisi belakang gedung, dan…

HUP!

Ia berhasil mencekal pergelangan tangan kanan gadis itu. Hoodienya terlepas dan menampakkan wajahnya yang sengit.

“Mau apa kau?” tanya gadis itu.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu” Hyunwoo malah balik berkata, “Mau apa kau mengambil hasil foto Eunri?”

“Aku tidak mengambilnya” sangkal gadis itu, “Ini bukan miliknya”

Hyunwoo merebut amplop kertas payung itu dan menunjukkan nama yang tertera di sudut amplop pada gadis itu, “Kau bisa baca ini? Kim Eun Ri”

Gadis itu berdeham canggung menyadari bahwa Hyunwoo tidak mudah dibohongi. Ia melengos, “Bukan urusanmu”

Hyunwoo mendengus, “Bukan urusanku?” Gadis itu tidak bergeming, “Siapa kau?” tanya Hyunwoo.

“Penting?” tanya gadis itu—lebih tepatnya bukan bertanya. Hyunwoo tidak menanggapinya dan membuka dengan paksa jaket gadis itu, “Mwoya?! Apa yang akan kau lakukan hah?!”

Terlambat. Jaket itu jatuh tergeletak di lantai dan menampakkan gadis itu dengan seragam berdasi ungunya—tanda bahwa ia adalah siswi jurusan musik. Hyunwoo membaca tagname gadis itu.

Park Minchan…

“Park Minchan… Jaga perbuatanmu, nona. Aku tidak akan membiarkanmu melukai Eunri. Arasseo?!” bentak Hyunwoo. Gadis itu malah memelototinya. Ia memungut jaketnya dan beranjak pergi.

***

Eunri mengorek-ngorek isi lacinya. Ia yakin sebelum istirahat tadi amplop fotonya masih duduk manis di sana. Tapi sekarang Eunri bahkan tak bisa menemukannya.

“Bagaimana?” tanya Hyora tak kalah panik. Eunri hanya menggeleng lemas tanpa bisa berkata-kata.

“Aku yakin tadi meletakkannya di sini… tapi…” mata Eunri mulai digenangi air mata, “Aku… aku tidak mau mendapatkan nilai buruk di ujian pertamaku”

“Ottokhae? Han songsaengnim sebentar lagi masuk” seru Hyora. Eunri terduduk lemas di kursinya.

“Molla, aku tidak bisa berbuat apa-apa” air mata menetes dari kedua pelupuk matanya, “Aku tidak bisa mencarinya juga”

“Sabarlah Eunri-ah…”

Krek…

Bersamaan dengan itu, Han songsaengnim masuk sambil membawa setumpuk buku tebal. Ia menunggu anak-anak memberikan salam kemudian tersenyum.

“Silakan kumpulkan hasil pekerjaan kalian”

***

Hyunwoo mengintip dari depan kelas Eunri dengan amplop kertas payung di tangannya. Sial. Ia terlambat. Pelajaran Eunri sudah dimulai. Lagipula jika ia memberikan amplop itu pada Eunri, dapat dipastikan Eunri akan menyangkanya mencuri hasil pekerjaannya.

Akhirnya Hyunwoo berjalan dengan lemas ke kursi di taman utama. Tangannya bergerak membuka amplop kertas payung tersebut. Dipandangnya foto hasil pekerjaan Eunri. Bagus. Matanya meyusuri lekuk wakaj pria yang ada dalam foto tersebut. Jadi ini pria yang disukai Eunri.

Yah, Hyunwoo akui ia memang tampan. Tapi ia tidak akan rela Eunri menyukai pria itu. Matanya membaca nama yang tertera di tagname pria itu.

Cho Kyu…

Itukah namanya?

***

Kreek…

Ketiga gadis itu membuka pintu ruang praktek teater dengan perlahan. Mereka mengendap-endap masuk. Yap, benar sekali. Mereka adalah Heerin, Sangmi, dan Richan. Jam pelajaran telah usai sejak 40 menit yang lalu, tapi mereka sengaja datang ke gedung jurusan teater demi melabrak pria yang telah merusak hasil foto mereka.

Setelah menyebutkan ciri-ciri pria itu dan bertanya ke sana kemari, akhirnya mereka mengetahui bahwa pria itu bernama Lee—entah siapa nama kecilnya, mereka tidak mempedulikannya—dan Lee berada di ruang praktek setiap setelah jam pelajaran.

“Saranghae” terdengar suara Lee sedang berlatih bermain peran di atas panggung. Well, aktingnya lumayan bagus. Tapi bukan itu yang dipentingkan ketiga gadis itu saat ini.

“Cepat kau labrak” bisik Richan pada Heerin, “Kau kan yang punya ide.”

“Baiklah!” seru Heerin. Ia berjalan mendekati panggung ketika akhirnya Lee berbalik—tapi tidak melihatnya. Heerin membelalakkan kedua matanya dan berlari kembali menuju teman-temannya.

“Omona~ dia sangat tampan!” serunya.

“Yak, gadis plin-plan! Kau ke sini untuk melabraknya, bukan memujinya!” bentak Sangmi dalam bisikan.

“T-tapi aku jadi gemetar… dia tampan sekali… R-R-R-Richan saja!” Heerin menunjuk Richan.

“Mwo?! Shireo! Kan kau yang mengajak kita!” bantah Richan.

“Kalau begitu Sangmi saja! Ya? Ya?” mohon Heerin.

“Ya, Sangmi saja!” dukung Richan.

“Mwo? Aku? Shireo! Aku tidak bisa melabrak orang, aku tidak pernah tega melabrak orang!” jawab Sangmi.

“Aish… tidak usah banyak membantah, cepat sana!” Heerin dan Richan mendorong Sangmi hingga ia terjatuh membentur panggung.

“Aww~ appoyo” rintih Sangmi. ‘Lee’ berhenti berakting dan melihat ke arah Sangmi.

“Agassi, neo gwenchana?”

***

Hyunwoo membaca naskah yang ada di tangannya kemudian mempraktekannya. Cerita tentang Snow White yang akan ditampilkannya untuk ujian pertama. Ya, Hyunwoo ingin berjuang agar bisa mendapatkan nilai baik.

“Saranghae…” ujarnya penuh penghayatan. Matanya hampir mengeluarkan air mata.

“Aku mencintaimu, jangan mati… aku berjanji akan melindungimu seumur hidupku…” Hyunwoo berlutut di depan sebuah kotak kosong—pada prakteknya nanti, seorang gadis yang menjadi Snow White akan tidur di sana.

Hyunwoo meneteskan air mata. Mengenaskan. Untungnya ia dapat menghayati perannya dengan baik. Hyunwoo membuka mulutnya untuk kembali berkata-kata ketika tiba-tiba…

BRUK!

“Aww~ appoyo”

Hyunwoo membalikkan badannya mendengarkan rintihan seorang gadis. Dilihatnya seorang gadis berdasi merah terjatuh di sisi panggung.

“Agassi, neo gwenchana?” tanya Hyunwoo sambil menghampiri gadis dari jurusan fotografi itu—yang terlihat dari dasi yang dikenakannya. Hyunwoo mengulurkan tangannya namun gadis itu malah berdiri sendiri tanpa menganggap uluran tangannya.

“C-chogiyo…” kata gadis itu di tengah kesakitannya, “Aku ingin mengatakan sesuatu”

“Wae?” tanya Hyunwoo.

“Ini… tadi siang apa kau datang ke jurusan fotografi?”

Hyunwoo mengangguk, “Benar”

“Maaf, tapi kau lewat saat aku sedang memotret untuk ujian… jadi hasil fotoku…” gadis itu membiarkan kalimatnya menggantung di udara sementara tangannya menunjukkan hasil foto yang terpampang di kameranya.

“Ah, mianhamnida… aku tidak tahu, sekali lagi jeongmal mianhamnida” Hyunwoo membungkukkan badannya berkali-kali.

“Gwenchana… gomawo…” gadis itu kembali ke deretan kursi penonton yang gelap. Hyunwoo menghela nafasnya ketika gadis itu sudah tak terlihat lagi.

‘Hyunwoo jeongmal baboya!’ batinnya dalam hati.

***

“Yak, bodoh! Itu tadi bukan melabrak, tetapi menunjukkan hasil foto!” protes Heerin.

“Aku kan sudah bilang, aku-tidak-bisa-melabrak. Jelas kan?” balas Sangmi, “Lagipula kenapa tidak kau sendiri saja?!”

“Aish… terserah kau, kajja! Kita harus kembali ke kelas, bukuku tertinggal!” ajak Heerin.

“Arasseo… arasseo” balas Sangmi dan Richan.

Mereka pun kembali ke kelas mereka. Heerin mengambil bukunya yang tertinggal.

“Eh, chamkamman! Aku lupa menulis agenda kelas, aku hampir lupa tugas sekretaris… hehehe… kalian kembalilah ke asrama duluan!” seru Sangmi.

“Aish… jinjja…! Ya sudah, aku kembali duluan!” jawab Heerin, “Kajja Chan-ah!”

***

Hyunwoo mengintip dari balik tembok. Itu Eunri. Dia sedang berbincang-bincang dengan temannya. Wajahnya terlihat sangat keruh. Yah, meskipun jam pelajaran sudah lama usai, tapi Eunri masih di sana, jadi Hyunwoo ingin mengawasinya.

Hyunwoo semakin mendekat dan mendekat. Berharap Eunri tidak melihatnya.

“Han songsaengnim memberiku waktu untuk mengedit foto dan mencetaknya kembali. Aku harus mengumpulkannya hari Sabtu” samar-samar terdengar percakapan Eunri dengan temannya.

“Gwenchana Eunri-ah… kau masih punya waktu”kata teman Eunri.

“Tapi Han songsaengnim bilang, ia akan mengurangi nilaiku 5 poin” balas Eunri. Temannya hanya terdiam sambil menepuk-nepuk pundak Eunri.

Hyunwoo menghela nafas panjang, “Kasihan dia” gumamnya. Hyunwoo terus memperhatikan Eunri hingga tak terasa 10 menit telah berlalu. Matanya, hidungnya, bibirnya, senyumnya, rambutnya. Semuanya tak luput dari mata Hyunwoo. Gadis yang sempurna.

Eunri tiba-tiba menoleh. Hyunwoo panik. Ia berusaha lari, tapi terlambat.

“Hyunwoo oppa? Sedang apa kau di sini?” tanya Eunri sambil menghampirinya.

“Err… aku… aku sedang… sedang… mmm…” Hyunwoo kebingungan mencari alasan untuk mengelak. Tidak lucu juga kalau ia mengaku sedang mengawasi Eunri, “Aku sedang menunggu… ya, menunggu seseorang!”

“Menunggu? Siapa oppa?” tanya Eunri.

Deg!

Hyunwoo bingung lagi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan…

Bingo!

Seorang dewi penyelamat lewat. Hyunwoo segera menarik tangan gadis itu dan merangkulnya.

“Dia! Ya, dia!”

Gadis itu melotot dan mencoba melepaskan rangkulan Hyunwoo.

“Yaa! Apa-ap—“ perkataan gadis itu terpotong karena Hyunwoo menginjak kakinya keras-keras pertanda untuk menyuruhnya diam. Dengan penuh emosi, gadis itu akhirnya diam.

“Siapa namanya? Pacar oppa ya?” tanya Eunri.

“Err… namanya…” mata Hyunwoo memberi isyarat pada gadis itu untuk memberitahukan namanya.

“Yoo Sang Mi” jawab gadis itu dengan penuh amarah.

“Aigoo~ jadi ini pacarmu oppa? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” seru Eunri antusias.

“Err… yah… dia…”

“Eunri! Cepat! Hyokyo sudah menunggu kita!” teriak teman Eunri—yang adalah Hyora.

“Ah, ya, tunggu!” jawab Eunri, “Oppa, aku tinggal dulu ya. Nanti kau berhutang cerita. Annyeong!” Eunri pun melangkah pergi. Hyunwoo memandang punggung Eunri hingga ia menghilang di tikungan. Setelah yakin bayangan Eunri telah menghilang, Hyunwoo segera menarik tangan Sangmi dan membawanya ke bagian belakang gedung. Dipojokkannya Sangmi di dinding dan membuat gadis itu melotot.

“Apa yang kau katakan tadi hah?! PRIA LANCANG! Aku bahkan tidak mengenalmu, tapi—“

Hyunwoo meletakkan jari telunjuknya di bibir Sangmi, “Kumohon, dengarkan aku. Berpura-puralah menjadi pacarku sampai aku mendapatkan Eunri!”

“MWO?!”

.ToBeContinued.

If you comment, I prayed for you to meet your bias ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s