Love’s Art (part 2)

love's art

Title : Love’s Art -part 2-

Author : Catherine Crystal and Tiffanny_ELF

Main Casts :

  • Kim Eunri
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyun Woo
  • Yoo Sang Mi
  • Park Min Chan

Genre : romance, drama

Length : continue

Rating : General (G)

Disclaim : this plot is ours! so don’t take it or claim it as yours!

Note : tulisan dengan warna oranye artinya kejadian di masa lalu. Don’t be confused

***

PART 2

Author’s POV

MWO?!”

“YA! Apa-apaan kau ini?! Aku saja baru melihatmu tadi, tapi dengan lancangnya kau mengaku menjadi pacarku! Dan… apa?! Sampai kau mendapatkan Eunri, huh?! Kau pikir aku ini mainan?!” ujar Sangmi dengan amarah yang meluap-luap.

“Yoo Sangmi! Aku mohon! Kali ini saja… Aku janji akan memberikan apapun yang kau minta!” Hyunwoo menggenggam tangan gadis cantik itu.

Sejenak suasana menjadi hening. Yang tersengar hanyalah helaan nafas mereja berdua.

“Maaf… Tapi aku tidak bisa,”

Wae?” Hyunwoo menghela nafas berat.

“Kau tidak perlu tahu alasannya,”

“Jika kau memang tidak bisa membantuku, setidaknya kau harus memberitahu aku apa alasannya!” sifat keras kepala Hyunwoo muncul lagi. Entah kenapa, namja ini terlalu terobsesi untuk mendapatkan Eunri.

“YA! Kau ini kenapa?! Kenapa kau merecoki hidupku, huh?!” Sangmi membentak Hyunwoo.

“Aku tidak bisa… Aku tidak pernah tahu yang namanya cinta!” Sangmi melangkahkan kakinya menjauhi Hyunwoo. Tapi Hyunwoo mencegahnya dan menarik tangannya.

Jebal…”

“Pokoknya aku tidak bisa membantumu! Jangan menggangguku lagi, arraseo?!” Sangmi melepaskan genggaman tangan Hyunwoo.

***

“Tadi itu siapa Eunri-ah?” tanya Hyora.

“Siapa?” Eunri mengernyitkan alisnya.

“Ne, siapa yang tadi berada di dekat Hyunwoo oppa?” ulang Hyora.

“Hm… sebenarnya aku juga belum tahu, tapi tadi Hyunwoo oppa bilang bahwa itu adalah pacarnya,” jawab Eunri enteng.

Jinjja?! Hyunwoo oppa?! Dengan Yoo Sangmi?!” mata Hyora melebar.

“Kau tahu namanya?”

“Tentu saja! Kau tidak tahu?! Dia  satu dari tiga gadis terpopuler di kelas 1-B jurusan fotografi. Wahh.. aku baru tahu bahwa Yoo Sangmi pacaran dengan Hyunwoo oppa,” jawab Hyora girang.

Geurae… Aku memang tidak mengenalinya. Kurasa Hyunwoo oppa harus segera menceritakan tentang Yoo Sangmi padaku. Dia adalah yeoja yang cantik,”

Ne, karena itu dia menjadi salah satu dari 3 gadis terpopuler di kelas 1-B jurusan fotografi,” jawab Hyora.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Hyo Kyo yang baru saja kembali setelah membeli minuman.

“Hyunwoo oppa dan Yoo Sangmi,” jawab Eunri.

“Memangnya mereka kenapa?” Hyo Kyo bertanya dengan sedikit malas. Dia bukan tipe orang yang suka mencari tahu tentang kisah kehidupan orang lain.

“Kudengar mereka pacaran,”

“Ahh.. geurae? Oh iya, kapan kau akan menyelesaikan pekerjaanmu, Eunri-ah?” tanya Hyo Kyo.

“Mungkin besok? Ah… besok pasti akan menjadi hari yang melelahkan ―mengedit ulang foto yang pernah kuedit,”

“dan tetap saja Han seonsaengnim akan mengurangi nilaiku 5 poin.” lanjut Eunri dengan raut wajah sedih. Harapannya untuk mendapat nilai tertinggi sudah pupus hanya karena dia ceroboh menaruh foto editannya.

Hwaiting, Eunri-ah!” pekik Hyora dengan tangan terkepal di depan dada. Eunri tersenyum.

Ne, gomawo Hyora-ya,” ucap Eunri.

“Ah! Sekarang sudah waktunya makan. Cacing-cacing di perutku sudah berteriak dari tadi. Umm… Bagaimana kalau kita makan bersama di kafe baru di sebrang jalan? Sepertinya kafe itu lumayan bagus,” tawar Hyo Kyo.

Jinjja?! Aku baru tau kalau ada kafe baru di sebrang jalan,” Eunri menghembuskan nafasnya pelan.

“Aish… kau ini! Sebaiknya kau jangan terlalu mengurusi tugas yang membuatmu buta dengan keadaan sekitarmu,” ucap Hyo Kyo menasihati. Mereka bertiga mengobrol sambil berjalan menuju kafe baru yang terletak disebrang universitas.

“Oh, kau pasti belum tau tentang acara yang diadakan oleh pihak sekolah?” lanjutnya. Sepertinya perkataan Hyo Kyo membuat Eunri bingung.

“Acara? Sekolah? Kapan pihak sekolahakan membuat acara? Dan acara apa itu?” tanya Eunri panjang lebar. Hyo Kyo dan Hyora mendengus.

“Oh, come on Eunri-ah! Pedulikan lingkungan sekitarmu. Jangan selalu fokus dengan pekerjaan dari para guru gila itu!” Hyora mengibaskan tangannya di depan wajah Eunri.

Ne, ne, neArraseo. Sekarang kalian hanya tinggal memberi tahuku apa acara yang diadakan pihak sekolah,” Eunri menjawab dengan malas. Hyora dan Hyo Kyo mendesah pelan. Sementara Eunri mendudukkan badannya di sofa yang ada di kafe tersebut. Hyora dan Hyo Kyo ikut duduk.

Seorang pelayan mengampiri meja mereka. Dan setelah melihat-lihat menu, Eunri memutuskan untuk memesan ice cappuccino, Hyora memesan lemon tea, sedangkan Hyo Kyo memesan milkshake dan juga French fries.

“Baiklah, setelah ujian selesai, sekolah akan mengadakan acara liburan,” jelas Hyora disusul sebuah anggukan setuju dari Hyora.

“Kemana?” Eunri bertanya.

“Hmm… Molla, tapi sepertinya kita akan pergi ke Pulau Jeju atau Nami,” jawab Hyo Kyo sambil mengidikan bahunya. Kemudian dia melahap kentang goreng-nya lagi.

Eunri meminum ice cappuccino-nya pelan. Kemudian bertanya lagi,

“Semua kelas akan ikut?”

“Sepertinya iya. Tapi aku tidak yau pastinya,” jawab Hyora enteng. Eunri membulatkan matanya.

Apakah dia akan bertemu dengan Cho Kyu lagi?

Semoga…

“Eunri-ah??” Hyora dan Hyo Kyo mengibaskan tangannya di depan wajah Eunri. Eunri yang tersadar langsung terkesiap kaget dan tersenyum innocent.

Gwaenchanayo…” jawab Eunri. Hyora bergidik.

“Senyummu aneh, Eunri-ah,”

Jinjja? Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” jawab Eunri. Sedangkan Hyora dan Hyo Kyo menatap sahabatnya khawatir.

“Ah! Molla! Cepat habiskan makananmu, Park Hyo Kyo! Aku harus segera pulang,” perintah Hyora .Hyo Kyo mengangguk cepat. Kali ini giliran Hyora yang mentraktir.

***

Seorang yeoja sedang berjalan mengintari taman yang terletak di tengah kota. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, menghirup oksigen sebanyak mungkin. Musim gugur ini membuat Seoul menjadi jauh lebih sejuk dan cantik. Daun-daun yang berwarna kuning-kecoklatan menjadi pemandangan cantik yang sulit untuk dilewatkan.

Yeoja itu kembali menghirup udara lagi. Mencoba mendalami bau unik yang tercipta dari rumput dan tanah. Bau yang hanya akan muncul setelah hujan. Bau yang dapat membuat rongga paru-paru terasa sejuk.

Yeoja itu melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang terletak dibawah sebuah pohon besar di pinggir taman. Dia menutup matanya, mencoba menetralkan kerja otaknya agar terasa lebih rileks.

Tapi tiba-tiba…

Noona?” yeoja itu membuka matanya dan mendapati seorang anak kecil sedang menatapnya lekat, dan ditangannya terdapat setangkai bunga mawar dan juga sepucuk surat.

“Ada apa, adik kecil?” Tanya yeoja itu ramah sambil berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka.

“Aku disuruh untuk memberikan bunga dan surat ini kepada noona,” jawab anak kecil itu sambil menyodorkan setangkai bunga mawar dan sepucuk surat tadi.

“Siapa yang menyuruhmu memberikan ini?” Tanya yeoja itu. Anak kecil itu menggeleng.

“Aku juga tidak tau. Tapi kata hyung, noona harus membaca suratnya dan mengikuti langkah-langkah yang ada di surat itu,” jelas anak kecil itu. Yeoja itu mengangguk.

“Ah… GeuraeArraseo, noona akan mengikuti langkahnya,” anak kecil itu mengangguk dan berlari meninggalkan yeoja itu.

Sepeninggalan anak kecil itu, yeoja itu masih terpaku di tempatnya semula. Tersadar, yeoja itu segera membuka dan membaca surat tersebut.

‘Maju sepuluh langkah dan berbaliklah ke arah kiri, kemudian berjalanlah 11 langkah.Kau akan segera menemukan petunjuk berikutnya.’

Setelah selesai membaca surat itu, yeoja itu membuang surat itu.

‘Untuk apa mengikuti perintah konyol seperti itu? Haha’ pendapatnya dalam hati.

Tapi tiba-tiba dia teringat kepada anak kecil tadi. Dia sudah mengatakan akan mengkuti langkah-langkah yang terdapat pada surat itu. Dan oh —yeoja itu sangat tidak suka ingkar janji. Dengan terpaksa dia mengambil surat itu dan mengikuti perintah itu dengan bermalas-malasan, bibir mungilnya itu terus saja mengeluarkan kata umpatan.

Yoo Sangmi’s POV

Hah, bagaimana bisa ada orang yang menciptakan permainan konyol seperti itu? Bisa dipastikan orang itu adalah orang yang sangat bodoh. Dia pikir aku ini anak TK yang mencari harta karun?!

Aku berjalan malas-malasan sambil mengumpat. Kesal, tentu saja. Sebenarnya siapa orang itu dan apa yang dia maksud? Sekarang tanganku sudah hampir penuh dengan bunga mawar merah. Sedangkan suratnya kubuang setelah aku selesai membacanya.

Sebenarnya aku sudah berjalan seberapa jauh? Dan apa aku terlihat aneh? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Ah iya, pasti mereka menganggapku aneh. Mungkin mereka mengira aku akan menjual semua bunga mawar yang kupegang ini.

Ah, tidak peduli dengan pendapat orang lain, aku kembali melanjutkan langkahku. Aku ingin cepat menyelesaikan permainan konyol ini.

“Kuharap ini adalah surat petunjuk terakhir,” harapku setelah aku melihat surat yang terletak di dekat pohon. Aku membuka surat itu dan mataku terbelalak kaget.

‘Kau pasti menganggap permainanku ini konyol, dan kau pasti ingin segera mengakhirinya.Aku tahu itu. Sekarang, berjalanlah ke pohon besar yang ada di ujung jalan, dan kau akan menemukanku disana.’

Setelah membaca surat itu ―yang lagi-lagi berisi instruksi, aku melangkahkan kakiku malas menuju ujung jalan. Tanganku rasanya sudah sakit membawa bunga sebanyak ini. Setelah sampai, aku mencari-cari orang yang menciptakan permainan konyol itu.

Bodoh! Disini terdapat banyak orang! Bagaimana bisa aku mencari orang itu ―yang bahkan belum pernah kutemui, diantara lautan manusia ini?!

Tiba-tiba aku merasakan pundakku disentuh oleh sebuah tangan, dan kurasa tangan ini milik seorang namja. Aku membalikkan badanku dan saat itu aku membelalakan mataku karena…

LEE HYUN WOO BERLUTUT DAN MENYODORKAN BUNGA UNTUKKU?!

APA YANG DIMAKSUD NAMJA ANEH INI SEBENARNYA?!

Would you be my girl?” ucapnya. Aku membuka mulutku sedikit. Orang-orang di sekitar kami memusatkan perhatiannya kepada aku dan namja aneh ini.

Apa aku harus menolaknya di depan umum seperti ini?!

“TERIMA! TERIMA!” teriak beberapa yeoja disekitarku.

Aku menggelengkan kepalaku bingung. Entah kenapa, rasanya aku harus menerima namja aneh ini. Aku tau ini hanya pura-pura.

Tapi…

Haruskah?

Aku menggaruk pelan kepalaku yang tidak gatal. Baiklah, dia harus membayarku mahal untuk ini. Akhirnya aku menganggukan kepalaku dan kuterima mawar yang dia sodorkan. Terdengar suara tepuk tangan orang-orang yang melintas di sekitar kami. Seperti drama bukan? Ya, ini memang drama.

Namja aneh itu berdiri dan langsung memelukku. Aku berusaha melepaskan pelukannya tapi tidak bisa.Tenanganya besar sekali.

Gomawo, Sangmi-ya~” dia berbisik pelan di telingaku.

“Cih! Sesukamu lah, namja aneh!” aku mengumpulkan tenagaku dan akhirnya aku bisa  melepaskan diri dari pelukan namja aneh itu.

Aku segera berjalan cepat meninggalkannya. Masih terdengar gelak tawanya yang menghantui pikiranku. Sebenarnya aku ini kenapa? Hari teraneh. Bagaimana bisa aku membantu namja aneh itu?!

***

Author’s POV

“YA! Park Heerin! Ulah apalagi yang kau perbuat hari ini?!” terdengar teriakan dari Oh Seonsaengnim.

Jwe-jwesonhamnida, seonsaengnim…” Heerin menundukankepalanya takut. Hari ini ia salah mengerjakan tugas.

“Aish! Heerin-ah! Kenapa kau begitu ceroboh?!” terdengar suara bisikan dari Richan.

“Aku salah membawa buku kemarin,” jawab Heerin.

“YA! Apa yang kalian bicarakan?!” Oh seonsaengnim membentak mereka berdua. Heerin dan Richan hanya bisa menghela nafas.

“Keluar kau sekarang, Park Heerin!” suruh Oh seonsaengnim sambil menunjuk keluar.

C-chakamanyo seonsangnim! Ini tugas miliknya,tugasnya tertinggal di rumahku kemarin malam!”

Richan memberanikan dirinya untuk berbohong. Sebenarnya ituadalah tugas miliknya, kemarin malam ia menyalinkan untuk Heerin―berjaga-jaga jika gadis itu lupa membuat tugasnya lagi. Benar saja firasatnya itu, kali ini ia salah mengerjakan tugasnya.

Heerin menatap Richan dengan tatapan bertanya, tetapi sedetik kemudian dia langsung mengganti raut wajahnya.

“Apa benar yang dikatakan Richan?” tanya Oh Seonsaengnim.

Ye, seonsaengnim. Jwesonghamnida. Kemarin saya bermain di rumah Richan hingga larut dan saya lupa membawa tugas saya.” Jawab Heerin. Oh seonsangnim menghela nafas.

“Baiklah. Masuk dan ikuti pelajaran dengan baik, Park Heerin!” Heerin membungkuk berterima kasih dan disambut anggukan dari Oh seonsaengnim.

Gomawo, Richan-ah!” bisik Heerin riang.

Ne, kau memang menyusahkanku, Park Heerin!”

***

“Ayolah, Hyo Kyo-ya… Temani aku ke toko buku!” rajuk Eunri.Hyo Kyo menatapnya malas.

“Untuk apa?”

“Untuk… Mencari bahan makalah! Ya, mencari bahan makalah…” jawab Eunri bohong. Hyo Kyo yang sudah hafal dengan tingkah laku Eunri pasti mengetahui bahwa Eunri sedang berbohong.

“Tidak usah berbohong seperti itu. Bilang saja kau akan mancari novel ataupun komik,” jawab Hyo Kyo santai. Eunri mengerucutkan bibirnya.

“Yayaya… baiklah nona cerewet,” muka Eunri berubah menjadi riang.

Akhirnya mereka pun pergi ke toko buku. Eunri berjalan dengan wajahnya yang berseri-seri, mengingat bahwa ia akan mendapatkan banyak novel dan komik baru.

Bis yang mereka tumpangi berhenti, Eunri dan Hyo Kyo segera keluar dari bis dan di depan mereka sudah terlihat toko buku. Eunri memandangan toko buku itu dengan mata yang berbinar-binar.

Kajja! Kalau dibiarkan kurasa kau akan menjadi orang gila,” ucap Hyo Kyo terkekeh. Eunri mengerucutkan bibirnya. Lalu Hyo Kyo menarik lengan Eunri memasuki toko buku tersebut.

Eunri langsung melesat ke bagian penjualan komik dan novel, sedangkan Hyo Kyo mencari bahan makalah yang akan ia buat.

***

Eunri mengambil tas untuk menampung seluruh novel dan komik yang akan dia beli hari ini. Lumayan, kemarin dia baru saja mendapat bonus uang jajan dari appa-nya.

Eunri membolak-balikan novel yang ada di depannya, mempertimbangkan apakah novel itu memang harus dibeli atau tidak. Ternyata otak Eunri masih bisa diajak kompromi untuk sedikit mengirit.

Setelah beberapa menit, Eunri memasukan novel tersebut ke dalam tas belanjaannya. Sudah cukup, dia sudah membeli 7 komik dan 5 novel hari ini. Cukup untuk bahan bacaan seminggu.

Eunri berbalik menuju kasir, sambil mengambil dompetnya. Tapi tiba-tiba….

BRUKKK…

Appo!” ringis Eunri. Badannya baru saja terhempas ke lantai, cukup keras. Karena yang menabraknya adalah seorang namja menyebalkan yang sedang berlari.

***

“Aish! Jwesonghamnida, aku tidak bermak―” ucapan namja itu terpotong karena dia melihat wajah yeoja yang ia tabrak tadi.

Yeoja itu…

Bukankah dia yeoja yang waktu itu dia lukis saat ujian?!

Seketika jantung namja itu terpompa cepat. Nafasnya tercekat. Dia mengamati yeoja yang sedang berusaha berdiri dan membersihkan bajunya. Yeoja itu menengadahkan wajahnya, dan seketika mata yeoja itu terbelalak.

Namja itu mengernyitkan dahi heran. Apa ada yang salah? Dia melihat tubuhnya, mulai dari ujung kaki dan dia kemudian menyentuh rambutnya. Tidak ada yang salah. Tapi kenapa yeoja itu?

Dengan gerakan cepat, yeoja itu berlari meninggalkannya. Seperti orang yang baru saja melihat hantu.

“Ckckck, apa yang salah dengan yeoja itu?” gumamnya dalam hati.

Namja itu kembali berjalan, melanjutkan niatnya yang tertunda. Tapi percuma, sekarang dia tidak ingin ke toilet lagi. Dia tertawa kecil saat mengingat kejadian tadi. Tapi kenapa jantungnya terpompa cepat saat melihat wajah yeoja itu?

Apakah perasaan itu muncul lagi?

Perasaan yang telah dia jaga bertahun-tahun?

Ah… tidak mungin!

***

OH MY…

Namja itu?

Apakah dia Cho Kyu?Aku tidak salah lihat?

Pertanyaan itu sedari tadi berputar-putar di kepala Eunri. Bagaimana bisa dia bertemu dengan Cho Kyu di toko buku?! Badannya seketika menjadi lemas saat berhadapan dengan namja itu.

Benar…

Dia memang menyukai namja itu…

Tapi apakah mungkin rasa suka bisa datang secapat ini?

Love at first sight kah?

Eunri berusaha meyakinkan perasaannya. Dia termenung beberapa saat di depan kasir sampai sang penjaga kasir membuyarkan lamunan Eunri.

Agasshi?”

“Ah? Ne, jwesonghamnida…” Eunri sedikit membukuk dan mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar buku-buku yang tadi ia beli.

Setelah selesai membayar, Eunri pun menghampiri Hyo Kyo yang sedang fokus membaca suatu buku, tentunya bukan komik maupun novel. Hyo Kyo membaca buku untuk bahan makalah yang akan ia buat.

“Hyo Kyo-ya…” panggil Eunri. Hyo Kyo yang sedang fokus langsung menoleh begitu namanya dipanggil.

Wae? Kau sudah selesai? Cepat sekali,” Hyo Kyo menutup buku yang dia baca lalu berjalan menuju kasir. Eunri berjalan mengikuti Hyo Kyo.

Ne, sudah selesai. Otakku masih bias diajak kompromi hari ini,” jawab Eunri. Hyo Kyo terkekeh pelan.

“Oh iya, tadi aku bertemu dengan Cho Kyuhyun, namja yang terkenal itu! Kalau dilihat-lihat ternyata dia tidak buruk juga,” Hyo Kyo tersenyum. Sementara Eunri melebarkan matanya.

“K-kau suka dengannya?!” pekik Eunri. Hyo Kyo mengernyit.

Anio. Memang kenapa? Kau sepertinya kaget,” Eunri menghela nafas.

“Kau suka dengannya?” pertanyaan itu mulus terucap dari bibir Hyo Kyo dan sukses membuat jantung Eunri berhenti bekerja selama beberapa detik.

M-Mwo?!” Eunri tergagap.

“Ya~ akui saja, Eunri-ah! Walaupun kau bohong, aku pasti mengetahuinya, kkk~” lagi-lagi Hyo Kyo terkekeh karena perilaku sahabatnya itu.

“Aishh… Jugeosso, Park Hyo Kyo!” Eunri menjitak kepala sahabat tersayang-nya itu.

“YA! Appo!” Hyo Kyo meringis lalu mendengus. Eunri masih dengan wajah merah padamnya.

“Wajah merahmu sudah membuktikan semuanya~” Hyo Kyo melenggang keluar dari toko buku dengan Eunri yang mengekor di belakangnya.

Hyo Kyo sedaritadi tertawa karena melihat muka merah ―seperti tomat milik Eunri. Hyo Kyo memegangi perutnya yang hamper keram karena tertawa berlebihan. Sedangkan Eunri mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang masih seperti tomat.

“Ayo ceritakan padaku, bagaimana kau bisa menyukai Cho Kyuhyun!” Hyo Kyo menyikut Eunri pelan. Eunri tertunduk diam.

Mollayo…” Eunri mendesah pelan.

“Rasa itu datang begitu saja,”

***

Seorang yeoja dengan perawakan mungil mengawasi dua orang yang sedang berjalan di depan toko buku. Mata tajamnya menelusuri wajah seorang dari mereka.

Tangannya terkepal kuat disamping kedua badannya. Hampir saja ia meninjukan tangannya ke dinding yang sekarang menjadi tempat sandarannya. Gadis itu mendengus kesal.

“Bagaimana seorang seperti dia bisa disukai oleh namja setampan dan sebaik itu?” geramnya.

“Kurasa aku lebih pantas darimu,” lanjutnya sambil terus memperhatikan wajah tak bersalah milik yeoja yang menjadi saingannya.

“Jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu dengannya,” matanya menerawang, bibirnya mengukir seulas seringaian tipis.

“Kau sendiri yang merebutnya dariku. Kenapa kau selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, huh?!”

“Dunia ini memang sungguh tidak adil!” tubuh gadis itu terjatuh ke jalan. Dia meringis pelan. Lalu bangkit lagi.

“Tidak. Aku tidak boleh seperti ini! Lihat saja, Kim Eunri!” desisnya sambil menyeringai.

***

To Be Continued

If you comment, I prayed for you to meet your bias ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s