Love’s Art (part 3)

love's art

Title : Love’s Art –part 3-

Author : Catherine Crystal and Tiffanny_ELF

Main Casts :

  • Kim Eunri
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyun Woo
  • Yoo Sang Mi
  • Park Min Chan

Genre : romance, drama, friendship

Rating : General (G)

Disclaim : this plot is ours! So don’t take it or claim it as yours!

***

PART 3

.Author’s POV.

Seorang gadis berjalan menyusuri lorong-lorong Jungdeok Art High School dengan cepat. Tangannya dimasukkan ke dalam kantung seragam dan bibirnya tidak berhenti menggumamkan kata-kata umpatan. Langkahnya semakin cepat sehingga terdengar derap sepatunya menggema ke seluruh lorong. Kaus kaki sepanjang lututnya melorot beberapa kali, namun kali ini ia memilih untuk membiarkannya.

Beberapa orang yang ia lewati menoleh dengan bingung, seakan gadis itu tidak biasa berlaku seperti ini. Namun lagi-lagi, gadis itu memilih untuk mengabaikan mereka.

Di depan sang gadis, tampaklah sebuah pintu yang menjulang tinggi terbuat dari kayu jati. Pintu itu menampakkan sebuah tulisan yang bahkan tak dapat ditangkap oleh lensa mata gadis itu dalam ‘keadaan genting’ ini.

ROOM 312 – YOO SANG MI

Gadis itu mengeluarkan sebelah tangannya dari kantong seragam, kemudian mengambil sebuah kunci cadangan yang terletak di bawah karpet depan pintu. Dengan cekatan, ia segera memasukkan kunci itu ke lubangnya dan memutarnya berkali-kali, sebelum akhirnya ia mendapatkan akses masuk ke dalam ruangannya kembali.

Klek.

Ia segera masuk ke dalam ruangan yang setengah terbuka itu. Tangannya sudah bergerak hendak menutup pintu, sebelum sebuah tangan lain mencekal dan menariknya ke luar dengan kuat.

“ANDWE! SHIREO!”

Gadis itu terus berteriak-teriak—mengingat lorong yang sangat sepi saat itu. Pria yang mencekalnya mencoba meraih tangan satunya dan menguncinya di belakang tubuh sang gadis. Setelah pria itu berhasil, sang gadis memelototinya dengan marah.

“Apa maumu?!” tanyanya dengan suara mendesis yang biasa ia keluarkan saat gugup.

“Yoo Sangmi!” bentak sang pria, “Seharusnya aku yang menanyakannya padamu. Apa maumu?”

“Jangan terlalu berharap padaku.” Sangmi melepaskan cekalan tangan pria itu, “Kuberitahu kau, aku tidak benar-benar menerimamu sebagai pacarku! Kau dengar itu?! Aku hanya berpura-pura menerimamu karena tidak ingin dipermalukan!”

“TOLONG AKU!” Pria itu berteriak sambil menatap mata gadis bernama Yoo Sangmi itu lekat-lekat, “Aku sudah terlanjur mengatakan bahwa kau adalah pacarku di depan Eunri, kau harus menolongku.”

“Shireo! Sudah kubilang aku-tidak-mau! Tidak akan pernah mau!” Sangmi berteriak kencang, “Kau tahu? Aku bukan gadis murahan, aku bukan gadis yang bisa kau manfaatkan untuk kepentinganmu sendiri!”

Dengan marah, gadis itu kembali masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintunya. Ia bersandar pada pintu dan tubuhnya seketika itu juga merosot ke lantai. Jantungnya yang sejak tadi berpacu seperti berhenti berdetak selama beberapa detik.

Ia memejamkan matanya perlahan, kemudian menghela nafas berat. Kenapa pria satu itu tidak bisa berhenti mengganggu hidupnya?!

***

Eunri membolak-balik novel di tangannya dengan malas. Sepertinya ia salah membeli novel. Buktinya, sudah sejak tadi ia mencoba membaca novel itu dan tidak juga memahaminya. Akhirnya ia menyerah dan melemparkan novel itu asal ke atas kasur.

“Tidak paham, huh?” ejek Hyokyo yang duduk di sudut kamar Eunri. Eunri lalu mendengus kesal.

“Bukan urusanmu,” ujarnya. Hyokyo terkekeh, ia senang melihat sahabatnya itu kini bosan. Sementara di atas pangkuannya, buku bahan makalah telah terpampang manis, menampakkan isinya yang membosankan dan membingungkan.

“Oh iya,” Hyokyo tiba-tiba berdiri dan duduk di samping Eunri, “Tentang Cho Kyuhyun…”

Eunri langsung menatap Hyokyo antusias dengan mata berbinar, “Ya, dia kenapa?”

Hyokyo menjitaknya, “Seberapa ingin tahukah kau?” Eunri mengerucutkan bibirnya lucu, “Aku hanya ingin memberitahu, kalau aku sudah mendapat nomornya dari temanku.”

Eunri tersedak, “Maksudmu? Nomor ponsel Cho Kyu?” Hyokyo mengangguk.

“Kau mau?” tawarnya. Di tangannya kini telah terdapat selembar kertas notes kecil yang ia lambai-lambaikan ke udara untuk menggoda Eunri.

“Tentu saja!” pekik Eunri, “Berikan padaku!”

Hyokyo malah semakin menggoda Eunri, ia sengaja menjauhkan kertas itu dari tangan Eunri sambil terkekeh-kekeh. Eunri mencoba meraih-raih kertas itu, namun ternyata tangan Hyokyo lebih panjang daripada miliknya. Eunri mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Hyokyo terkekeh kemudian meletakkan kertas itu ke pangkuan Eunri, “Ini. Kudoakan semoga cinta pertamamu lancar.” Hyokyo kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil buku bahan makalahnya yang masih tergeletak di sudut kamar, kemudian melangkah keluar.

Eunri masih menatap kertas itu dengan tidak percaya. Dalam hatinya, terdengar debaran keras jantung yang tidak biasa. Ini… benar-benar nomor telepon pria itu? Ini benar nomor telepon Cho Kyu?

***

Eunri berguling-guling di atas kasur dengan gelisah. Di tangan kirinya terdapat kertas notes yang baru tadi siang ia dapatkan dari Hyokyo, sementara tangan kanannya sibuk menggenggam ponsel dengan gugup.

Apa yang harus ia katakan pada Cho Kyu?

“Aku penggemar rahasiamu.” Ah, tidak, tidak. Ia tidak mau terdengar kampungan.

“Maukah kau berkenalan denganku?” Dan, bagaimana kalau Cho Kyu–maksudnya, Kyuhyun–menjawab, “Maaf, aku tidak berbicara pada orang asing, dan aku tidak mau berkenalan denganmu.”

Eunri mengacak rambutnya dengan bingung. Ia sibuk memikirkan kata-kata yang akan ia ketikkan untuk Cho Kyu, pria yang diam-diam ia taksir.

Aplikasi SMS telah lama terpampang di layar ponsel Eunri, namun belum satu hurufpun tampak menghiasi isinya. Hal itu membuat Eunri makin frustasi. Akhirnya, entah mendapat ilham dari mana, Eunri mulai mengetikkan sebuah pesan singkat.

“Aku Kim Eunri dari kelas 1A jurusan fotografi. Apa benar ini Cho Kyuhyun dari kelas 1A jurusan seni? Aku ingin mengabarkan sesuatu mengenai darmawisata sebentar lagi. Tolong balas.”

Eunri harap-harap cemas menunggu pesan balasan. Dalam hati, ia berdoa semoga Cho Kyu mau menanggapi pesan tadi–ia sampai berbohong segala agar pria itu mau menanggapinya.

Tring!

Mata Eunri terbelalak bersemangat. Pesan baru! Ia segera meraih ponselnya dan…

…Benarlah, itu dari Cho Kyu!

From : Dearest Cho Kyu~

“Ya, benar. Mengenai darmawisata? Ada hal apa?”

Eunri diam membeku. Oh iya. Memangnya, apa yang mau ia katakan? Masa ia mau mengatakan bahwa ia tadi berbohong hanya demi mendapatkan pesan balasan? Tidak lucu.

Demi menjaga imej, ia akhirnya meneruskan kebohongan itu.

To : Dearest Cho Kyu~

“Park songsaengnim memberitahu bahwa acara akan dilangsungkan pukul tujuh, pukul enam sudah harus siap di gedung tambahan.”

SEND.

Eunri langsung memukuli kepalanya sendiri begitu pesan itu terkirim. Masa iya, pukul enam sudah harus siap? Dan, di gedung tambahan? Dari mana dia mendapatkan kebohongan seperti itu? Bahkan, kalau kedua sahabatnya tidak memberitahu, dia tidak akan tahu apa-apa soal darmawisata itu. Sekarang, dia malah memberi informasi palsu hanya demi menjaga imej?

Tring!

Oh, sial. Pesan balasan itu sudah keburu datang. Eunri hanya bisa harap-harap cemas.

From : Dearest Cho Kyu~

“Oh, baiklah. Terima kasih atas informasinya.”

Aaaaaaaaaa!!!!!

Rasanya semua kebodohan Eunri lenyap ditelan rasa senang. Cho Kyu… Berterima kasih padanya?–baiklah, ia juga tahu, bahwa sebenarnya ia malah mungkin menyesatkan Cho Kyu, tapi, apa pedulinya? Yang penting, pria itu sudah berbicara padanya! Bahkan mengucapkan terima kasih padanya! Itu saja sudah cukup luar biasa!

Satu-satunya hal yang terpikir di otak Eunri hanyalah, berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Orang yang paling mengerti dirinya.

Hyunwoo.

Ah, sepertinya menyenangkan untuk berbagi kesenangan dengan sohibnya itu. Jadi, tanpa basa-basi, ditekannya nomor telepon Hyunwoo dan ditempelkannya telepon ke telinga.

“Yoboseyo?”

***

.Hyunwoo’s POV.

Malam-malam begini, moodku sudah dihancurkan oleh gadis itu. Kim Eunri. Menerima telepon darinya barusan seperti meledakkan granat dalam kamar sendiri. Sakit, tak terduga, sekaligus membuatku ingin marah–ingin, tapi tak bisa, sebab aku begitu menyayangi Eunri.

Menyukai seseorang memang adalah haknya–termasuk menyukai Cho Kyu yang terkenal tampan itu. Tapi, di sisi lain, aku tidak rela membiarkan pria tak dikenal itu merebut mimpiku untuk menjadi namjachingu Eunri. Memperjuangkan cinta itu bukan dosa, kan?

Maka, atas dasar pemikiran itu, ingatanku kembali ke beberapa hari silam, saat aku tidak sengaja mengakui gadis aneh bernama Yoo Sangmi sebagai yeojachingu-ku. Ada beberapa hal yang kusesali sampai saat ini. Pertama, ternyata dia menolak untuk berpura-pura menjadiyeojachingu-ku. Kedua, dia ternyata gadis keras kepala, tidak secantik penampilan luarnya. Ketiga, aku sama sekali belum mengenal gadis ini sebelumnya. Jika bisa memilih, aku tidak bakalan memilihnya. Tapi, karena dia kebetulan lewat saat itu, aku jadi tidak dapat berpikir lebih jauh, dan langsung menariknya di depan Eunri.

Terlebih, aku sudah pernah berbuat salah padanya gara-gara gadis lain bernama Minchan–ngomong-ngomong soal gadis itu, aku masih mencari identitasnya agar ia tak mencelakai Eunri lebih lanjut. Sekarang, bukannya membayar kesalahanku, aku malah membuatnyasport jantung dadakan lantaran kuakui secara semena-mena di hadapan Eunri.

Walaupun banyak kesalahan dalam diri gadis itu, aku harus menerimanya. Karena,  tanpa dia, rencanaku akan gagal total–dan sia-sialah usahaku selama ini untuk mendapatkan hati Eunri. Terlebih, sekarang ada pesaing baru, Cho Kyu. Tanpa Sangmi, aku tak akan bisa menyatroni gedung fotografi untuk menguntit Eunri.

Puas berpikir, aku bangkit dari kasur. Suasana sudah gelap di luar. Lampu-lampu sudah dimatikan–terlihat dari minimnya cahaya yang menerobos masuk melalui celah pintu. Seharusnya, ini sudah jam tidur. Tapi, sebagian murid Jungdeok–hampir semuanya–memilih untuk berlama-lama di kamar sebelum benar-benar tidur.

Kubuka perlahan pintu kamarku, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Benarlah, aku hanya bisa melihat kegelapan. Kukerjap-kerjapkan mata berkali-kali, membiasakan dengan gelap. Dan akhirnya, aku berhasil melihat keadaan sekitar. Berjingkat-jingkat, aku berjalan cepat menuju tangga dan naik ke lantai tiga.

Kali ini, aku harus berhasil membujuk gadis itu. Harus berhasil.

***

.Sangmi’s POV.

Tok tok tok

Aku terkesiap mendengar bunyi ketukan pintu dari luar. Siapa itu?

Sebelumnya, aku sudah sering mendengar soal razia dadakan yang sering diadakan oleh kepala sekolah. Tapi, aku tidak tahu kalau razia itu juga sopan dilakukan malam-malam begini. Apalagi aku sedang tidak siap–maksudku, lihat saja kamarku, banyak benda terlarang yang aneh-aneh (seperti dongkrak dan pisau–bukan berarti aku hobi membunuh orang, peralatan itu memang kuletakkan di kamar untuk berjaga-jaga).

Aku buru-buru menyelipkan novel yang sedang kubaca ke bawah bantal, ketika ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.

Tok tok tok

Ouch, bagaimana kalau kepala sekolah marah karena aku tidak membukakan pintu? Pasti bukan hal yang menyenangkan. Jadi, aku segera memasukkan pisau dan dongkrak ke dalam koper, dan membukakan pintu perlahan-lahan.

Awalnya, aku sudah siap melihat tampang serius kepala sekolahku–atau mungkin, guru di sekolahku–yang tajam dan dingin, bersiap menerobos masuk ke dalam kamar. Tapi, ternyata dugaanku salah.

Yang berdiri di depan pintu bukanlah kepala sekolah, melainkan…

Lee Hyunwoo.

Astaga, pria itu lagi! Aku langsung menutup pintu, namun pria itu nekad menahan pintu dan menerobos masuk. Cih, dasar tidak sopan!

“Yaa! Yaa! Yaa! Mau apa kau?!” Teriakku kasar. Aku menghalanginya dengan merentangkan kedua tanganku.

“Ssst…” Dia menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, “Jangan berisik.”

Aku melotot, “Memangnya kenapa, huh? Ini kamarku, aku bebas melakukan apa saja!”

Diputarnya kedua bola mata, “Aku tidak punya banyak waktu. Singkat saja, aku ingin memintamu untuk–”

“Sudah kubilang, aku tidak mau menjadi pacarmu, walaupun hanya pura-pura!” Selaku ketus, “Hanya itu? Silakan keluar.”

Dia menatapku dengan tatapan memohon, tapi tatapan itu kemudian berubah sombong, “Kau mau menolakku? Oke, tidak apa-apa.”

Aku menyipitkan sebelah mata dengan curiga, “Wae?”

“Padahal aku punya penawaran yang cukup lumayan,” jawabnya. Tangannya merogoh saku piyamanya, lalu mengeluarkan sebuah kertas brosur dari dalamnya. Mataku membelalak lebar melihat kertas itu.

“Omona!” Pekikku tertahan, “Kamera DSLR seri terbaru!”

Hyunwoo tersenyum penuh kemenangan, “Bagaimana? Kalau kau mau membantuku, akan kubelikan kau kamera ini. Tapi, kalau tidak, ya sudah, anggap saja kita tidak pernah saling kenal.”

Aku kagok. Astaga, kamera itu adalah kamera yang sudah lama sekali kuinginkan! Gosh, apa yang harus kulakukan?

“Apa jika aku menyetujuinya, aku hanya harus berpura-pura manis di hadapanmu saja?” Tanyaku.

“Tentu,” jawabnya, “Agak lebih dari itu, tapi tidak berlebihan.”

Aku terdiam sejenak, ragu hendak menjawab. Tapi, karena merasa tidak buruk membantunya demi kamera impianku, akhirnya aku berdeham tidak jelas. “Eung… Deal?” Ujarku ragu.

Hyunwoo tersenyum puas, “Kutunggu kau tiap istirahat dan pulang sekolah. Annyeong,chagiya.”

Setelah menekankan kata terakhir dari kalimatnya untuk menggodaku, ia melenggang pergi dari kamarku.

“Aish,  nappeun!” Pekikku. Tapi, dalam hati aku merasa senang. Sebentar lagi, kamera itu akan ada di tanganku! Aku tidak tahu kalau aku bergitu materialistis sebelumnya, tapi untuk kamera ini, baiklah, kuakui. Wow, menakjubkan.

***

.Author’s POV.

Eunri mendesah kecewa saat menerima amplop hasil tesnya. Bukannya nilai itu jelek-jelek amat, hanya saja, tidak semaksimal seharusnya. Kalau lembaran fotonya tidak hilang, ia pasti akan mendapat hasil yang jauh lebih memuaskan. Lembaran foto pembawa sial.

Eunri menendang kerikil di hadapannya dengan kesal. Ingin rasanya ia memutar waktu kembali agar bisa menjaga amplop fotonya dengan lebih baik dan tidak teledor. Tapi, hal itu jelas mustahil.

Tak!

Kerikil yang ditendang Eunri mengenai kepala seseorang. Eunri kaget dan buru-buru menghampiri orang itu untuk meminta maaf.

“Jeosonghamnida,” ia membungkuk dalam, “Saya tadi yang menendang kerikilnya, saya tidak sengaja–”

Perkataan Eunri terhenti melihat wajah orang itu. Park… Minchan?

“M-Minchan?” Eunri terbata-bata. Minchan tersenyum sinis.

“Lama tidak bertemu, Kim Eunri.”

***

Minchan menyesap kopi di hadapannya dengan tenang, sementara Eunri hanya memandangnya dengan pandangan ngeri yang sulit diartikan.

“Hmm,” Minchan bergumam, “Kopi ini enak sekali. Tidak berniat mencoba?”

Eunri menggeleng kaku. Hilang sudah seleranya tatkala gadis di hadapannya menampakkan diri.

Hubungan Eunri dan Minchan memang tidak pernah bisa dikategorikan baik-baik saja. Apa yang telah terjadi di masa lalu menghambat mereka untuk tidak saling membenci.

“Oh, ya. Kudengar kau baru saja ujian pertama,” Minchan tersenyum simpul, “Dan… Well, tidak hanya itu yang kudengar. Tapi–”

“Kau juga mendengar bahwa amplop fotoku hilang. Itu yang mau kau katakan, bukan?” Terka Eunri. Minchan mengangguk-angguk dengan gaya sombongnya. Eunri mendesah, “Ternyata berita tidak menyenangkan itu menyebar begitu cepat.”

“Tidak, tenang saja. Hanya aku yang tahu soal ini,” Minchan menyangkal Eunri. Ia tertawa tertahan.

“Dan bagaimana kau tahu soal itu?” Eunri bertanya curiga, “Kukira beritanya sudah menyebar seperti virus, atau sesuatu yang–”

“Kim Eunri,” Minchan tersenyum licik, “Kau pikir, kau itu orang yang seberapa penting? Sampai-sampai orang lain harus gempar mengenai masalahmu. Tentu saja aku yang mencari tahu sendiri, bukannya tidak sengaja dengar.”

Eunri menatap Minchan tak percaya, “Jangan bilang, kau mau menghancurkan kehidupanku di sini lagi?”

Minchan mengangkat bahu penuh arti.

“Ya Tuhan,” Eunri memekik, “Cukup, Minchan! Kau sudah menghancurkan imejku habis-habisan waktu itu! Jangan coba-coba melakukannya lagi di sini!”

“Menghancurkan imej?” Minchan mendengus, “Imejmu kan memang seperti itu. Buruk dan tak berguna.”

“Kau…” Eunri mengacungkan telunjuknya dengan marah, “Kuperingatkan kau, jangan aneh-aneh lagi di sini. Ini tidak main-main.”

“Aku juga tidak main-main,” Minchan membalikkan perkataan Eunri, “Anggap saja kejadian dulu itu tidak pernah ada. Anggap saja aku tidak pernah memfitnahmu mencuri di hadapan kepala sekolah. Jadi, hitungannya, aku tidak bersalah padamu. Ya, kan?”

Eunri bangkit dan menggebrak meja dengan kasar, “Aku punya mimpi, Minchan. Untuk itulah aku masuk ke sini. Jangan berani-berani menghancurkan mimpiku lagi!”

Minchan ikut berdiri, “Kau tahu? Sudah lama kau menghancurkan mimpiku.”

Mereka berdua terus bersitegang, saling menatap dengan amarah terpancar kuat. Sebelum akhirnya Minchan mendengus penuh arti.

“Kau hanya perlu menunggu, Eunri. Kehancuranmu sebentar lagi,” ujarnya, “Dan aku akan pastikan, kau hancur karenaku.”

Setelah itu, gadis itu melenggang pergi, berlalu dari hadapan Eunri.

***

Kyuhyun terdiam di kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Pandangan matanya menerawang ke depan, seolah-olah jiwanya telah pergi meninggalkan raga yang sedang duduk sendirian itu.

Perlahan namun pasti, pandangannya beralih pada kanvas lukis di sudut kamar, kanvas yang menampakkan lukisan setengah jadi. Itu lukisan wajah cantik Kim Eunri, gadis yang ia lihat saat ujian dulu.

Hingga kini, bayangan gadis itu masih melekat kuat di otaknya, menghantui fikirnya, setiap hari, setiap malam. Gadis yang mengingatkannya pada suatu perasaan, perasaan yang sudah amat lama tidak dirasakannya.

Cintakah itu?

Entah. Kyuhyun sudah mati rasa terhadap perasaan itu, hingga tidak dapat memutuskan apakah itu yang dinamakan cinta atau bukan. Yang jelas, ada getaran tidak biasa yang ia rasakan saat melihat gadis itu, saat menerima SMSnya…

…Oh, bicara soal SMS.

Kyuhyun tidak tahu menahu mengapa gadis itu tiba-tiba mengirim SMS untuknya. Tapi, yang jelas, ia merasa sangat senang, hingga tiap hari memelototi ponselnya, sekedar untuk mengecek barangkali gadis itu memutuskan untuk mengirim SMS lagi–walaupun sampat saat ini masih nihil hasilnya. Berulang kali, ia berpikiran untuk mengirim SMS duluan, tapi mengingat reputasinya yang pendiam dan dingin, rasanya tidak keren kalau ia merendahkan diri dan memulai suatu percakapan duluan.

Begitulah, ia melangkah mendekati kanvas lukisnya, duduk di atas kursi, dan mulai membayangkan wajah gadis itu lagi.

…Dan tanpa sadar, tangannya bergerak membentuk goresan-goresan lembut, menorehkan bayangan wajah gadis itu ke atas kanvas lukis di hadapannya.

***

Sangmi berdecak kesal melihat Heerin yang pagi-pagi sudah mondar-mandir gelisah di dalam kamarnya. Ia tidak senang kamarnya dijadikan tempat menumpang untuk mencurahkan kegalauan sahabatnya itu.

Wae?” Ia bertanya malas-malasan, melihat Heerin yang sejak tadi sibuk mondar-mandir sambil sesekali membongkar-pasang isi kopernya.

Aish! Jinjjayo molla!” Heerin memekik frustasi, “Sangmi-ya, apa yang kira-kira harus kubawa untuk darmawisata? Batas muatan koper hanya sedikit, sementara banyak sekali barang yang ingin kubawa. Aku bingung!”

“Jadi…” Sangmi memekik kaget, “Dari tadi hanya gara-gara itu?!”

“HANYA?!” Heerin mengulang perkataan sahabatnya, “Darmawisata itu besok! Bayangkan! Bayangkan!”

Sangmi berdecak kesal, “Masih besok, kan?”

“Tinggal sebentar lagi waktuku!” Heerin lagi-lagi memekik, “Aku harus bawa baju apa, Sangmi-ya?! Kalau bajuku jelek, Donghae sunbae tidak mungkin mau melirikku, aku–”

“Yaa! Yaa! Diamlah!” Sangmi memekik, “Donghae sunbae terus yang dipikirkan! Kau ini bisa membicarakan yang lain tidak, sih?”

Kriing…

“Ah,” Sangmi memekik, “Ada telepon. Aku keluar sebentar.” Ia keluar dari kamar dan mengangkat telepon tanpa melihat nama peneleponnya, “Yoboseyo?

“Sangmi?”

Sangmi menghela nafas berat. Ah, pria itu. Hyunwoo. “Ne, wae?”

“Aku punya rencana untuk besok,” jawab pria itu tanpa menyadari nada tidak senang dalam ucapan Sangmi.

“Rencana apa lagi?” Sangmi bertanya.

“Besok kan kita darmawisata, aku punya suatu rencana. Temui aku di cafe depan sekolah, kita bicarakan di sana saja.”

Klik.

Sambungan telepon terputus. Sangmi menatap ponselnya dengan kesal. Dengan sedikit umpatan, ia menjejalkan benda itu ke saku dan berjalan pergi, menuju cafe yang dijanjikan.

***

To Be Continued

***

YOWWWW!! Ini ff udah dri zaman kapan ada di komputer tapi baru dipost sekarang ._. *authorgabener* *tampol*

Part 3 ini yg bikin Crystal mehehe mian Crys bru aku post ._. andd lanjutannya aku yang bikin dan silahkan sabar menunggu ._.

Semoga suka sama ffnya ^^

If you comment, I prayed for you to meet your bias ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s